Coretan Dinding

MENGANTUK

Puja Mandela

image

Gemuruh hujan tiba-tiba berhenti dan berganti dengan hawa dingin yang tidak terlalu menyengat, namun cukup untuk membekukan tubuh seekor tikus got yang biasa berkeliaran di dalam pondokku. Tumbuhan yang sebelumnya kering, kini bagai mendapat nyawa baru untuk melanjutkan hidup.  

Hari ini kota Rakus disapa hujan setelah beberapa bulan diserang kemarau. Ada yang bertanya, kenapa hujan? Ah, cuaca memang tak bisa diajak kompromi.

Iya, cuaca memang tak bisa disuap. Mustahil menyuap cuaca.Mungkin ratusan tahun kedepan menyuap cuaca bukan lagi hal yang aneh.

Aku masih duduk seperti biasa, di lantai pondokku saat mentari terlihat kelelahan. Yang terasa hanya sedikit hangat meresap kulit. Kupikir ia hendak beristirahat sejenak. Sekadar menyeduh kopi panas diantara debu-debu yang terbang tak tentu arah.

Mentari sudah diujung barat. Aku sudah tak bisa melihat benda panas itu. Memang, mata ini diciptakan terbatas olehNya. Sengaja, pasti Tuhan sengaja.

Gelapnya langit itu tidak lain karena saat itu di kota rakus tengah kedatangan tamu istimewanya. Ia bernama malam.

Sebenarnya, gelap ini belum dapat disebut sebagai malam. Malam yang sebenar-benarnya malam. Kita belum sampai samudera, kita baru mencapai muara malam.

Dua bola mataku tiba-tiba terasa berat. Jangankan melihat cahaya, melihat gelas kopi pun aku tak mampu. Aku mengantuk.

Padahal saat itu aku masih ingin membuat satu gelas kopi lagi untuk menaklukkan malam ini. Tapi aku tak berdaya. Bahkan untuk menyelesaikan dongeng favoritku pun aku tak mampu.

Ingin rasanya mengeluarkan jurus pukulan matahari atau jurus kunyuk melempar buah agar setan bernama kantuk itu sirna. Namun apalah daya, aku bukan Wiro Sableng yang tak pernah mengantuk.

Aku hanya manusia biasa. Seberapa banyak pun aku menenggak kopi, tak akan mampu menolongku dari rasa kantuk ini. Rupanya aku harus segera mengakhiri coretan konyol ini. Wassalam

17 Oktober 2011 pukul 21:36
Edit: 5 November 2015, 15.05