Coretan Dinding I

Bundaran Idaman
Puja Mandela (Banjarbaru, 14 Oktober 2011)

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah penuh nanah.”

Syair lagu lagu itu bagai menyelimuti malam dimana aku duduk di sebuah karpet sederhana milik pedagang kaki lima yang berada tidak jauh dari bundaran kota idaman. Lewat satu hirupan kopi, syair itu bergañti, namun masih menyuguhkan suara riuh teduh yang mengusirku dari hawa dingin .

Alunan lagu itu memang tak asing bagiku. Ya, lagu itu itu tidak lain ialah lagu dari penyanyi favoritku Iwan Fals. Lagu demi lagu berganti, lewat pada seperempat malam aku belum juga beranjak dari sandaranku persis didepan toko yang sudah tutup.

Namun, kehangatan itu seakan terhenti ketika seorang paruh baya mematikan suara henpon butut miliknya. Hei…. kenapa dimatikan,” ucapku menggerutu. Ya, lagu-lagu itu memang berasal dari henpon milik pria paruh baya pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar bundaran Idaman.

Aku hanya terdiam ketika pria itu mulai menggulung karpet sederhananya yg menjadi pelapis terakhir dimana aku duduk. Tentu saja, aku hanya pasrah saat ia mengambil karpet yg kupikir usianya jauh lebih tua dari usiaku.

Padahal saat itu aku sangat menikmati lagu demi lagu yang diputar. Seingatku ada beberapa lagu Iwan Fals yang sempat diputar pria paruh baya itu sebelum dia menggulung karpetnya untuk kemudian berlalu dari depan hidungku.

Seketika itu langsung kualihkan perhatian pada kopi hitam dihadapanku. Dengan kopi hitam, kuhabiskan sisa malamku yang entah sudah sampai dimana.