Catatan: Lesehan Seni dan Sastra (Bagian II)



Setelah membaca tulisan Pak Lutfi tadi malam, saya pikir akan semakin banyak orang gila yang akan bergabung bersama kita. Pada kesempatan ini, saya harus tegas mengatakan bahwa kita membutuhkan orang-orang gila yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk berjuang melestarikan seni dan sastra di kampung yang sama-sama kita cintai ini.

Kita butuh orang-orang yang bisa berpendapat tanpa harus mempertimbangkan pendapatnya disukai orang atau tidak. Orang gila itu kalau mau ngomong jancuk, ya ngomong saja. Kalau dengan jancuk bisa membuat orang tertawa, kenapa kita harus berpura-pura menjadi orang alim, tetapi orang lain tidak bahagia dengan kealiman kita.

Sebelumnya, saya sudah menemukan sosok orang gila itu pada diri Mas Wawan alias Syekh Jowo Tambeng. Namun, sayang sekali kemarin beliau belum sempat menyampaikan pendapat-pendapatnya yang kritis, nyeleneh, namun jenius. Satu hari setelah pertemuan 20 November, saya ngobrol sebentar bersama Mas Wawan di warung kopi yang berada tidak jauh dari padepokan Majelis Al Glundungi. Saat itu, Mas Wawan memberikan banyak sekali masukan dan pendapatnya terkait acara kita kemarin. Overall sudah oke. Sudah sesuai dengan konsep kita bersama kawan-kawan yang ikut menggagas acara. “Tapi akan terus kita evaluasi,” kata saya sembari mengembalikan mikrofon yang saya pinjam untuk acara lesehan kemarin.

Kalau ada orang gila lain yang patut diacungi empat jempol adalah Mas Tato A Setyawan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya saat itu mungkin mengagetkan sebagian orang yang belum tahu jika sebagian orang yang hadir di acara lesehan adalah orang yang “tidak waras”. Tetapi, bagi saya dawuhnya saat itu menjelaskan bahwa sebagai pegiat seni dan sastra harus punya sikap yang jelas. Pertama, seorang pegiat seni maupun sastra yang baru merangkak harus memahami posisinya sebagai batu kerikil di dunia paling ujung. Sah-sah saja jika bermimpi suatu saat kita akan menjadi mutiara yang direbutkan banyak orang, tetapi untuk mencapai titik itu tentu bukan hal yang mudah. Kita perlu perjuangan dan satu hal bernama keajaiban.

Dari banyak hal yang disampaikan Mas Tato, saya menarik kesimpulan bahwa seorang pegiat seni dan sastra tidak seharusnya terbebani dengan “ini” dan “itu”. Kita tidak boleh ngoyo, santai saja. Kalau bisa ya silahkan dilaksanakan, kalau tidak bisa ya tidak usah dipaksakan. Sebab, apa enaknya berkesenian jika ternyata ada beban di dalam hati dan pikiran kita. “Kalau ada beban itu bukan seni namanya,” Bang Arif nyeletuk.

Menurutnya, dalam membangun wadah berkesenian harus didasari rasa ikhlas. Perkara dana yang minim untuk menghidupkan seni dan sastra tentu saja tidak bisa dijadikan alasan karena hal itu sudah menjadi persoalan bersama, tidak hanya di daerah kita, tetapi hampir seluruh seniman dan sastrawan yang baru merangkak juga mengalaminya. “Kalau seperti Andrea Hirata itu lain cerita. Semuanya butuh proses,” katanya. Oleh karena itu, Mas Tato sudah berencana jika buku kumpulan puisinya sudah dirilis, ia tidak akan menjual bukunya. Ia akan membagikannya gratis dan akan mendistribusikan bukunya dengan biaya sendiri.

Karena alasan ini, kegiatan lesehan yang digelar di Hutan Kota Kapet Kecamatan Simpang Empat memang kita konsep sesederhana mungkin. Tak ada spanduk, baliho, apalagi sponsor karena yang ada di sana adalah keikhlasan untuk membangun wadah berekspresi yang sampai hari ini sengaja tidak kami beri nama. Terserah saja mau disebut forum silaturahmi ya boleh atau disebut majelis silaturahmi ya oke. Kami tak mau diribetkan dengan simbol-simbol itu.

Yang terpenting kita bisa mengambil kebaikan-kebaikan itu bersama. “Jangan terlalu serius, banyakin guyon saja,” kata saya kepada kawan-kawan. Oleh karena itu, ketika sang relawan pendidikan, Mbak Sinar, ingin menyampaikan dawuhnya kepada para hadirin, saya nyeletuk sambil guyon, “Tolong mereka yang hadir ini ditolong Mbak, biar agak berpendidikan. Maaf Mbak, sungguh saya hanya bercanda. Heuheu…”

Kontan saja, mereka tertawa, bahkan ada juga yang cekikikan. Saya perhatikan dari jauh Mas Wawan ngomong,”Jaaaancuuuuk.” Hihihi…

Saya berkata begitu bukan karena semua orang yang hadir adalah makhluk tidak berpendidikan. Saya berkata seperti itu karena ingin menciptakan suasana silaturahmi yang penuh kemesraan. Apalagi saya kira semua yang hadir memiliki selera humor yang sangat baik. Pak Johan juga saya lihat begitu bahagia hari itu. Beliau seperti sedang liburan di suatu tempat yang rindang (faktanya memang begitu), lalu dalam moment tersebut beliau mendengar banyak hal yang lucu-lucu yang sangat membahagiakan hati beliau. Sebelumnya saya juga sudah janjian, bahwa pertemuan-pertemuan kita nanti santai saja, lebih baik kalau banyak bercandanya. Yang penting tidak meninggalkan esensi acara.

Dari awal, kami memang ingin pertemuan kita ini berjalan dengan santai dan luwes saja, tetapi tetap berisi. Tidak ada aturan baku, yang penting sodara-sodara tidak kencing sembarangan. Intinya, dalam berkesenian kita tidak boleh terbebani dengan apapun. Seperti kata Bang Arif, kalau masih ada beban di hati, berarti masih belum sampai pada esensi seni itu sendiri.

Hal lain yang menarik ketika Mas Bengbeng dari Komunitas Pelangi Tanbu yang diberi kesempatan untuk bicara langsung mengungkapkan keresahannya. Salah satunya karena anak muda di kampung kita tidak mengenal budayanya sendiri. Mereka, kata Mas Bengbeng, justru lebih mengenal budaya asing yang lebih banyak memberikan mudharat daripada manfaat untuk generasi kita di masa mendatang.

Bersambung…

Tel Aviv, 23 November 2016 16.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s