Catatan: Lesehan Seni dan Sastra (Bagian 1)


Oleh Hamba Allah

Dibuka dengan lagu Indonesia Raya tiga stanza yang diikuti lagu Syukur, kegiatan Lesehan Seni dan Sastra yang digelar di Hutan Kota Kapet Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, Minggu 20 November 2016 berlangsung dengan sangat lancar dan meriah. Bahkan, sebenarnya antusiasme para pegiat seni dan pecinta sastra yang hadir benar-benar di luar ekspektasi saya dan kawan-kawan.

Setelah dua lagu pembuka, para pemain musik yang baru terbentuk sekitar satu minggu sebelum acara mencoba membawakan lagu Lir-ilir yang dipadukan dengan puisi berjudul “Kemana Anak-anak itu” karya Emha Ainun Nadjib yang di-medley dengan lagu selawat Sidnan Nabi yang sering dicover oleh Caknun dan Kiai Kanjeng-nya.

Puisi “Kemana Anak-anak itu” memang request adalah request khusus dari Bang Arif Rahman sebagai salah satu penggagas acara. Dan seperti biasanya, tidak ada latihan dari para pemusik. Mereka hanya sempat satu kali bertatap wajah, lalu kemudian nada-nada itu mengalir begitu saja.

Beberapa pertunjukan seni pencak silat dan tari-tarian tradisional juga ikut memeriahkan kegiatan yang sudah digelar sebanyak enam kali sepanjang 2016. Tak hanya itu, kegiatan kali ini juga diramaikan dengan iringan lagu-lagu Banjar dengan irama Bossanova dan Keroncong, lalu adapula penampilan ciyamik Bu Mia Ismed yang membacakan cerpennya yang berjudul “Lapak”.

Yang paling spesial dari kegiatan kali ini tentu saja kehadiran Mas Tato A Setyawan, si “Sufi” dari Landasan Ulin Banjarbaru. Kedatangannya yang cuma mengenakan celana pendek benar-benar tidak diketahui oleh siapapun, termasuk saya sendiri. Uniknya, Mas Tato datang dengan membawa dua burung Pleci peliharaannya. Hal ini juga sempat mengundang gelak tawa dari kawan-kawan yang hadir.

Saya pikir pagelaran kali ini benar-benar sangat lengkap karena dihadiri – meminjam istilah Bu Mia – para sesepuh di bidangnya masing-masing. Seperti diketahui, Mas Tato saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Umum di Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu. Sebelumnya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Humas Setda Tanah Bumbu. Mas Tato juga seseorang yang begitu akrab dengan dunia jurnalistik karena pernah menjadi wartawan di dua media harian Kalimantan Selatan, Banjarmasin Post dan Harian Mata Banua.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri Koordinator Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu Pak Andi Jamaluddin, Ketua Komunitas Bagang Sastra Pak Johansyah, dan anak-anak Bagang Sastra yang sudah tidak asing lagi diantaranya, Fauzi Rohmah, Akhmad Cahyo Setio, dan Rind Dea Putri.

Beberapa orang yang ikut lesehan memang berasal dari latar belakang yang berbeda. Selain dari Komunitas Bagang Sastra, beberapa orang yang hadir adalah para guru yang membawa serta murid-muridnya. Beberapa orang yang saya tahu adalah Kepala Sekolah SMPN 2 Simpang Empat, Pak Kasno, Pak Arif Rahman dari SMAN 1 Karang Bintang, Bu Halimatussadiah dari SMPN 2 Batulicin. Kemudian, ada Bu Mahda dari SMAN 1 Satui, dan Supandi dari SMAN 1 Angsana.

Yang tak boleh dilewatkan tentu saja Bu Fajriah yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SDN Satiung Salimuran Kecamatan Kusan Hilir. Kehadiran beliau ini juga sudah diwanti-wanti oleh Mas Prast, sang pembetot bass, karena Bu Fajar pasti request lagu Keroncong. Heuheu… Untung saja pemain musik dibawah komando Bang Chally sudah siap lahir batin.

Kemudian nama-nama beken lainnya yang juga tidak boleh dilewatkan adalah Mbak Seraffin Sinar yang dikenal sebagai relawan pendidikan. Adapula Mas Aris Purnomo yang melalui tangan emasnya ikut membantu memberikan warna baru dengan lukisan-lukisannya yang menuai pujian dari banyak orang, termasuk saya. Tak ketinggalan Mas Richie yang menyumbangkan suara emasnya lewat lagu legendaris “Hey Jude”. Kemudian, ada Goro Mahdi dan Haji Suhe yang juga ikut nimbrung dalam kegiatan ini.

Terakhir, ada si guru mbeling dari SMKN 1 Kusan Hilir. Ia adalah Mas Wawan alias Syekh Jowo Tambeng yang karena doanya, pagelaran siang itu tidak jadi diguyur hujan badai. Padahal, sebelumnya saya sempat khawatir kalau acara ini akan gagal karena hujan lebat. Tetapi, kita patut bersyukur karena Tuhan masih menghargai kerja keras kita untuk membangun wadah berkesenian yang murah-meriah di Kabupaten Tanah Bumbu.

Bersambung…

Batulicin, 22 November 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s