Silaturahmi 


Kalau saya menasihati Anda, bukan berarti saya lebih baik dan lebih mulia dari Anda. Justru jika Anda bisa legowo ketika saya nasihati, maka semakin mulia diri Anda dihadapan Allah. Kalau hari ini saya sowan ke rumah Anda, bukan berarti saya ingin dijamu seperti pejabat tinggi negara, tetapi semata-mata karena saya adalah manusia yang patuh terhadap sesuatu yang bernama silaturahmi. 

Alasan lain yang membuat saya ingin berkunjung ke rumah Anda karena memang ada beberapa hal yang menurut saya sangat penting untuk disampaikan. Namun, sekadar Anda ketahui bahwa sebelumnya saya tidak pernah memiliki niat untuk datang ke rumah Anda. Tetapi, entah kenapa hari ini saya tidak terlalu disibukkan dengan berbagai kegiatan saya yang biasa saya lakukan setiap hari seperti menulis, bermain musik, kelonan, atau sekadar berdiskusi ringan bersama kawan-kawan di “majelis”.

Saya pikir, kedatangan saya ke rumah Anda murni karena petunjuk Allah, sebab ternyata hari ini Anda juga memiliki rencana untuk menemui saya. Bukankah kita tidak pernah berkomunikasi sebelumnya? Baik via telepon maupun pesan singkat. Saya pikir, ini bukanlah suatu kebetulan. Hal-hal seperti ini bisa terjadi ketika manusia tersebut memang memiliki tujuan sama dan memiliki keikhlasan untuk memperjuangan sesuatu yang memang pantas untuk diperjuangkan.

Saya harus tegaskan di sini bahwa saya setuju dan mendukung penuh perjuangan Anda selama ini. Kalau saya tidak membantu perjuangan Anda, maka itu adalah suatu kebodohan bagi saya. Bukan karena saya memiliki kemampuan lebih baik dan lebih berpengalaman dari Anda, tetapi setidaknya, dan saya sangat berharap setelah pertemuan ini ada hal-hal baik yang bisa kita ambil pelajaran dalam menyikapi problematika yang kita hadapi di masa depan.

Seperti pertemuan kita biasanya, ada berbagai persoalan yang kita bicarakan. Dari perkara remeh temeh sampai persoalan penting yang tidak ada hubungannya dengan demo 4 November kemarin. Saya juga senang karena Anda selalu blak-blakan kalau sedang berdiskusi dengan saya. Anda begitu bebas mengungkapkan keluh kesah Anda kepada saya.

Begitu pun sebaliknya. Saya mengeluarkan keluh kesah saya tanpa ada sesuatu yang saya sembunyikan. Itulah yang saya sukai dari Anda, karena kita bisa bicara bebas tanpa harus diintervensi oleh Komisi Penyiaran Akhirat (KPA).

Saya tahu bahwa tidak banyak orang yang siap jika saya mengemukakan pendapat saya dengan jujur. Dan Anda adalah segelintir makhluk Allah yang memiliki “karomah” sehingga bisa maklum dengan orang seperti saya. Anda juga selalu khusyuk saat mendengarkan pendapat-pendapat saya yang bagi sebagian orang mungkin akan terasa sangat radikal, tetapi bagi Anda pendapat saya tak ubahnya seperti mandai yang justru sangat gurih dan nikmat untuk disantap.

Oh iya, saya juga harus berterima kasih karena Anda juga selalu mendoakan saya, mendoakan kesehatan saya, dan selalu menjadi motivator ketika beberapa tahun yang lalu saya sempat ingin pensiun dini dari dunia yang entah, saya tak tega mengungkapkannya di sini. Semoga kita selalu diberi kesehatan agar suatu saat nanti kita bisa mewujudkan salah satu cita-cita kita yang tak ada hubungannya dengan diskusi kita hari ini yaitu kawin lagi.
Nusa Kambangan, 10.10.2016 | 12.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s