Islam itu Mudah


image

Islam adalah agama yang mudah, bahkan sangat mudah. Oleh karena itu, belajar Islam tidak perlu melalui sekolah khusus, apalagi sampai masuk pesantren.

Belajar di pesantren memang bukan perkara mudah. Tidak semua orang mampu ngaji di pesantren. Tak peduli pesantren salaf maupun pesantren modern, keduanya sama saja, sama-sama sulit dan tidak cocok dengan pendapat bahwa Islam adalah agama yang mudah.

Untung saja belakangan ini belajar Islam sudah bisa dilakukan dimana saja, termasuk belajar kepada Mbah Google dan Syekh Youtube. Disini, konsep Islam itu mudah benar-benar bisa diterima nalar. Belajar Islam tidak lagi harus duduk menatap kitab kuning dengan tulisan Arab gundul atau harus fasih bahasa Arab.

Melalui dua “mursyid” itu, kita tidak perlu repot-repot jika ingin mencari tata cara salat. Disana, Anda tinggal searching saja, misalnya, “tata cara salat lima waktu” atau “cara berwudhu sesuai Alquran dan sunnah”. Dan saking praktisnya, melalui Mbah Google dan Syekh Youtube kita tidak hanya bisa belajar perkara fikih dan muamalah saja, disana sudah terdapat banyak referensi terkait dunia Islam dari tarikh Islam, tassawuf, tauhid, aliran menyimpang, tokoh-tokoh sesat, dan segala hal yang terkait dengan Islam. Kalaupun misalnya di kampung kita tidak ada internet, konsep Islam itu mudah masih bisa ditemukan di pasar-pasar loak yang menjual buku-buku tentang Islam.

Jadi, hal inilah yang membuat salah seorang sahabat saya menganggap bahwa belajar Islam tidak perlu melalui pesantren atau melalui ulama yang mu’tabar karena Islam adalah agama yang mudah jadi kita tidak perlu kaku, seperti misalnya, taklid dengan mazhab tertentu. “Wong Rasulullah saja tidak punya mazhab,” begitu katanya.

Tapi itu dulu, beberapa tahun yang lalu. Tadi sore kami ngobrol panjang lebar tentang hal ini. Dan ia mengungkapkan bahwa sudah cukup lama meninggalkan Mbah Google dan Syekh Youtube. Ia juga sudah tidak pernah membanggakan ilmu “sebuku” yang ia peroleh dari buku-buku di pasar loak yang entah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Saat ini, sahabat saya sudah begitu asyik dengan pendapat barunya yang melalui berbagai pertimbangan terpaksa tidak akan saya ungkapkan disini.

Sebelum kami berpisah, saya pesan satu hal kepadanya. “Jangan pernah berhenti menyalahkan orang lain karena menyalahkan orang lain itu sebagian dari iman.” Mendengar nasihat saya itu, ia tertawa ngakak lalu berlalu begitu saja.

Yerusalem, 9 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s