Murid di Kursi Belakang


image

“Jangan terlalu membanggakan prestasi di sekolah,” kata Pak Guru Mukiyo kepada murid-muridnya.

Sambil mengusap jenggotnya yang panjang,
Pak Guru Mukiyo menjelaskan bahwa seorang murid tidak boleh merasa paling pandai dan merasa jumawa ketika ia duduk di baris terdepan.

Sebab, sehebat-hebatnya seorang murid yang duduk di kursi depan, paling banter hanya menjadi dosen di sebuah universitas. Sebagian lainnya malah hanya mampu menjadi pejabat setingkat kepala dinas, guru, atau pegawai bank.

Sementara mereka yang duduk di kursi paling belakang, mereka yang terkenal nakal dan sering mendapat rapor merah justru banyak yang menjadi orang besar. Ada yang menjadi anggota DPR, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden. Bahkan, ada seseorang yang tidak pernah nguntal bangku sekolah, saat ini tak pernah absen mengikuti lelang proyek berskala besar.

Ada banyak kemungkinan yang seringkali tidak rasional, seperti misalnya, seseorang yang selalu menjadi langganan juara saat di sekolah, namun tidak mampu berbuat banyak saat ia bergaul dengan masyarakat. Tidak sedikit yang menjadi pengangguran karena tidak mampu bersaing di tengah kerasnya kehidupan. Banyak diantara mereka yang hanya bisa menjadi penonton, sementara orang-orang di luar sana sedang berbagi “kebahagiaan”.

“Kita perlu belajar dari Bob Sadino, Susi Pujiastuti, atau Emha Ainun Nadjib,” kata Pak Guru Mukiyo.

Ketiganya merupakan sosok yang tidak punya prestasi mentereng di sekolah. Jika Bob Sadino bisa sukses meskipun tidak pernah nguntal bangku sekolah, Bu Susi yang hari ini menjabat sebagai menteri kelautan dan perikanan ternyata cuma tamatan sekolah menengah pertama. Emha Ainun Najib pun punya nasib yang tak jauh berbeda. Ia pernah “diusir” dari Pondok Pesantren Gontor hanya karena dituding berani mbalelo dari sistem pendidikan di salah satu pesantren modern tertua di Nusantara.

Tapi meskipun “tidak sekolah”, ketiganya sukses menjadi orang besar yang menginspirasi orang banyak. Sampai-sampai banyak orang yang berkesimpulan bahwa syarat kunci sukses seseorang adalah tidak usah sekolah. Atau setidaknya, jangan menjadi orang pintar saat di sekolah.

Caknun misalnya. Selain tidak berprestasi di sekolah dan tidak pernah menimba ilmu di bangku universitas, Presiden Maiyah Indonesia itu juga tidak pernah memenangi lomba menulis karya ilmiah, tidak pula pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional. Namun, saya belum pernah menemui seorang penulis yang punya kualitas sebaik Caknun. Belum ada seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana jurnalistik atau punya latar belakang sebagai penulis, namun memiliki produktivitas menulis buku setinggi Emha Ainun Nadjib.

Dan saya belum pernah menjumpai seseorang yang bisa menghayati sajak-sajak seperti penghayatan Caknun pada setiap puisi yang ia deklamasikan.

Yang lebih tak masuk akal, Mbah Nun bukanlah seorang ulama mu’tabar yang punya ratusan ijazah keilmuan, tidak pula memiliki guru mursyid yang diakui, misalnya oleh jumhur ulama Sunni di dunia. Namun, pengetahuannya soal Islam begitu luas. Logika berpikir yang ia sampaikan lebih mudah diterima kaum awam. Belum lagi caranya melantunkan selawat atau ketika ia membaca ayat suci Alquran, saya yakin semua orang yang mendengar akan jatuh cinta pada kemerduan suaranya. Padahal, saya yakin, semasa di sekolah, ia tidak pernah ikut lomba Musabaqah Tilawatil Quran.

Seluruh ilmu pengetahuan yang ia dapatkan, tentu tidak diperoleh melalui bangku universitas tertentu. Tidak pula melalui pesantren kesohor. Ia mendapatkan seluruh ilmunya karena berguru dengan siapa saja yang ia temui, dari pencuri, tukang parkir, sampai Pak Haji. Dari ulama besar, sampai wanita penghuni lokalisasi.

Maka, ketika Pak Guru Mukiyo menceritakan sejumlah tokoh nasional yang gagal di sekolah, namun bisa meraih sukses dan menjadi orang besar di kemudian hari, nyaris seluruh murid menyimpulkan bahwa sekolah itu tidak penting. “Sekolah bukan sesuatu yang keramat dan harus dilakukan oleh manusia,” begitu mereka menyimpulkan.

Yang lebih mengejutkan, sebagian besar murid langsung mengacungkan tangan dan mengusulkan agar mereka diberi kesempatan untuk duduk di kursi paling belakang. Mereka jelas tergiur dengan iming-iming menjadi anggota DPR, menteri, atau setidaknya mereka bisa menjadi bupati.

Pak Guru Mukiyo tersenyum. Kemudian ia berkata, “Maksud saya bukan seperti itu, Nak,” ia mulai menjelaskan. “Silahkan engkau duduk di kursi paling depan, tetapi jangan engkau menjadi orang yang pelit berbagi ilmu pengetahuan. Jangan engkau menjadi egois dan merasa engkaulah pemilik kebenaran. Jangan engkau menjadi kolot dan tidak luwes saat menyikapi berbagai problematika kehidupan. Dan jangan engkau menjadi sombong dengan prestasi yang kau miliki, sementara engkau melupakan hakikat kehidupan.

“Dan kalian yang duduk di kursi belakang. Jangan langsung sumringah karena mendengarkan cerita gurumu ini. Jangan engkau merasa bahwa dirimu bisa bebas dengan tidak terjajah dengan segala aturan. Jangan engkau meremehkan pendidikan. Dan jangan engkau merasa bahwa masa depanmu pasti ada di kantor-kantor mewah dan gedung-gedung bertingkat. Karena bisa jadi keterpurukan yang menimpa negara kita, ketidakadilan aparat penegak hukum di negeri kita, dan banyaknya kasus korupsi di negara kita ini disebabkan oleh orang-orang yang semasa di sekolah duduk di kursi paling belakang.”

Laut Merah, 8 September 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s