Menggali Potensi Baru Anak Bangsa


image

Ada sejumlah potensi masyarakat yang jika dikembangkan dengan seriyes akan membuat negara ini sejajar, atau setidaknya bisa  bersaing dengan negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Dalam industri film porno misalnya. Siapa yang bisa menyangsikan bahwa Indonesia punya bakat-bakat yang luar biasa hebat, bahkan tak kalah dengan Jepang yang setiap tahun bisa melahirkan enam ribu talenta muda calon bintang porno masa depan penerus sang living legend, Maria Ozawa.

Film porno Nusantara yang selama ini masih diproduksi secara amatiran memang belum bisa disejajarkan dengan film bokep produksi Jepang, Amerika, bahkan China. Disana, masyarakat sudah terbiasa menikmati blue film high definition dengan kualitas audio yang sangat prima.

Namun, film porno produksi Jepang bukannya tanpa cacat. Di negeri Sakura, pemerintah mewajibkan rumah produksi untuk memblur bagian intim aktor maupun aktrisnya. Kalaupun ada yang lolos sensor, biasanya hanya sebagian kecil saja. Dan film-nya pun dianggap ilegal karena tidak diakui pemerintah. Kebijakan ini jelas sangat mengganggu kita saat menikmati adegan demi adegan. Karena hal inilah, sebagian pemerhati menilai bahwa industri film porno Jepang memiliki kelemahan yang sangat fatal.

Ya, bagaimana kita bisa menikmati sajian visual yang maksimal antara laki-laki dengan wanita cantik berkulit mulus yang sangat ekspresif beradegan intim, jika dalam film tersebut sang produser justru menyensor bagian paling relijiyes yang menjadi daya tarik utama sebuah film porno.

Tempo hari, saat saya nongkrong di warung kopi langganan yang tidak jauh dari rumah saya, beberapa teman sedang berdiskusi soal film bokep made in Japan. Dalam diskusi itu, hampir semua orang yang ada di warung tersebut mengaku tidak suka dan jarang sekali menonton film biru produksi negeri Sakura. Alasannya bermacam-macam. Dari pemeran laki-laki yang berpenis kecil, juga tampang sang aktor yang tak seimbang dengan pemeran wanita.

Adapula yang mengatakan bahwa film bokep Jepang terlalu berisik, sehingga seseorang yang menonton harus mengecilkan volumenya sampai 15 persen agar tidak didengar oleh tetangga. Sebagian lainnya berpendapat bahwa ekspresi sang wanita terlalu lebay. Kadang-kadang baru disentuh sedikit sudah berteriak histeris.

Selain tidak menyukai film porno buatan Jepang, mereka juga merasa kurang sreg saat menonton film porno produksi Amerika. Mereka berpendapat bahwa film porno Amerika terlalu ekstrim. Dari 10 judul yang sudah mereka tonton, delapan judul diantaranya menyajikan adegan yang akan membuat ibu-ibu menutup mata karena syok melihat ukuran senjata yang sangat besar. Belum lagi pemeran wanita yang seringkali memiliki payudara super besar yang bagi sebagian orang dianggap terlalu lebay dan justru menghilangkan esensi film itu sendiri. Jangankan ibu-ibu, kaum bapak pun pasti tidak berminat menonton film bergenre hardcore seperti itu, kecuali sudah kebelet “pipis”.

Belum lagi saat sang produser kebetulan memiliki imajinasi tinggi lalu menginstruksikan sang aktris untuk berhubungan badan dengan binatang, dari anjing hingga kuda jantan. Kalau misalnya film porno seperti ini dijual di lapak-lapak pinggir jalan, saya kira sangat sedikit masyarakat yang membelinya.

Lembaga survei yang tidak kredibel menyebutkan, masyarakat Indonesia menyukai genre film biru yang “moderat”. Artinya, film biru yang disukai masyarakat di negeri ini tidak bergenre ekstrim seperti film porno produksi barat, juga tidak ringkih dan berisik seperti film porno khas China dan Jepang.

Masyarakat Indonesia lebih menggemari film biru yang punya alur cerita seperti film-film drama. Selain itu, mereka juga menyukai film biru beraliran soft dengan lokasi syuting yang anti mainstream seperti di kebun sawit, kos-kosan, pantai, atau di dalam mobil dinas. Kalaupun ada film porno populer yang lokasinya cuma di kamar hotel, namun film tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang, sudah dapat dipastikan pemerannya bukan orang sembarangan. Kalau bukan artis terkenal, ya oknum pejabat. Heuheu

Boleh saja orang Amerika dan Jepang meremehkan film biru produksi Nusantara karena kualitasnya yang buruk. Namun jangan sesekali meremehkan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia. Kalau bicara talenta, kedua negara tersebut jelas tak ada apa-apanya.

Pertama, kita punya sangat banyak sumber daya manusia yang kalau boleh sombong, jauh lebih unggul dari negara manapun si dunia ini. Buktinya, dari ribuan film porno amatir yang sudah tersebar di dunia maya, para pemerannya berasal dari berbagai macam latar belakang dan usia. Dari umur belasan, sampai 50 tahun keatas. Dari pengangguran, artis, sampai pejabat negara. Kalau cuma memeragakan gaya doggy style dan 69, anak SMP juga bisa.

Kedua, wajah-wajah orang Indonesia jelas lebih menggugah selera dibandingkan wajah orang Jepang yang monoton atau wajah bintang porno Amerika yang terkadang “seram” dan “menakutkan”.

Jadi, kenapa kita tidak menggali bakat-bakat yang sudah ada. Lihatlah berapa banyak film porno amatir karya anak bangsa yang rilis setiap tahunnya. Bukankah industri ini sangat potensial untuk dikembangkan?

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak bangsa. Kalau perlu, pemerintah harus membentuk lembaga khusus yang menaungi seluruh rumah produksi untuk membuat film porno secara profesional dengan kualitas suara yang misalnya, mendukung surround sound 7.1 chanel. Walaupun saya yakin upaya ini tidak akan mudah, karena pasti akan mendapat penolakan dari ormas-ormas Islam di Indonesia.

Aksi demonstrasi akan digelar dimana-mana. Sejumlah ormas Islam akan menentang sekeras-kerasnya. Bahkan, ormas Islam fundamentalis pasti akan mengeluarkan fatwa haram kepada tokoh-tokoh yang memperjuangkan legalisasi industri ini di Indonesia.

Tapi, tak ada salahnya dicoba. Saya yakin, ini akan menjadi cikal bakal tumbuhnya industri kreatif baru yang dapat membuka peluang kerja bagi angkatan muda Indonesia dan tentu dapat menjadi solusi jitu bagi pemerintah dalam mengatasi banyaknya pengangguran di republik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s