Majelis Al Glundungi, Kembali ke Zaman Nabi


image

Satu hari sebelum pertemuan rutin di Majelis Al Glundungi bertajuk “Ngemut Sandal” digelar, saya dapat kabar bahwa arus listrik yang biasa kami gunakan untuk menggelar kegiatan musik dan sastra di Hutan Kota Kapet Kecamatan Simpang Empat diputus oleh pihak-pihak tertentu.

Wah, piye iki, rek?” batin saya.

Padahal, Bu Mia sudah mengajak belasan muridnya dari SMP 2 Simpang Empat untuk unjuk gigi dan menampilkan beberapa pertunjukan relijiyes dihadapan mursyid dan sesepuh majelis. Begitupun dengan teman-teman yang datang dari wilayah yang tak bisa dibilang dekat, seperti Bu Fauzi Rohmah yang datang sendirian dari Pagatan Kecamatan Kusan Hilir.

Kalau tidak memiliki niat yang tulus untuk menghidupkan tali silaturahmi disertai dengan niat yang ikhlas untuk membangun dan menghidupkan wadah berekspresi, saya yakin ia tidak akan mau jauh-jauh datang ke Hutan Kota Kapet hanya untuk mencicipi arem-arem khas Karang Bintang sambil mendengarkan puisi saya berjudul “Pesen Simbah” yang Ngalkamdulillah berhasil membuat jamaah berteriak histeris dan membuat Pak Johan ngakak nggak ketulungan. Wkwkwkwk….

image

“Apalagi Pak Johan sepertinya senang sekali mendengar bait terakhir yang berbunyi ‘Cobalah kawin lagi. Agar hidup makin banyak rezeki.” Heuheuheu….”

Yang menjadi kejutan di pertemuan kali ini tidak lain karena kehadiran beberapa orang yang memang sudah kami tunggu-tunggu sebelumnya, salah satunya yakni Mbak Serafin Sinar, seorang aktivis yang punya segudang pengalaman dalam dunia pendidikan. Pada kesempatan itu, Mbak Sinar yang sudah lima tahun tinggal di Kabupaten Tanah Bumbu berbagi pengalaman tentang perjuangannya sampai ke ujung barat Indonesia hanya untuk membantu mencerdaskan anak bangsa.

image

Kemudian, Mas Aris, yang memiliki hobi melukis dan sangat akrab dengan dunia sastra. Walaupun hanya sebentar, namun kehadiran Mas Aris tentu sangat bermanfaat untuk jamaah majelis. Dan semoga di pertemuan berikutnya beliau mau membagi ilmunya untuk semua orang yang hadir di majelis ini.

Hadir pula, tetangga saya Pak Asdar, seorang pecinta motor vespa yang menjadi anggota Komunitas Gembel di Makassar. Pak Asdar yang berprofesi sebagai pelaut ini punya kesamaan dengan saya. Pertama, kami sama-sama suka memelihara jenggot. Kedua, kami suka mendengarkan musik, khususnya lagu-lagu Iwan Fals, reggae, dan The Beatles. Cuma bedanya, dia rajin ke musala. Sementara saya, alhamdulillah, jarang. Maklum, belum dapat hidayah. Heu

image

image

image

Terakhir, Mas Richie, seorang blogger dan pegiat seni musik di Tanah Bumbu juga ikut nimbrung. Bahkan, Mas Richie langsung mengeluarkan kameranya dan nge-shoot aksi Bu Mia yang sedang membacakan cerpennya berjudul Lapak.

Rencananya, cerpen ini akan dibawakan di event nginternasiyonal Indonesia-Malaysia yang digelar bulan depan di Yogyakarta. Sebelumnya, Mas Richie juga nekat membawakan satu puisi ciptaannya sendiri berjudul, “Manusia Normal”.

Kehadiran orang-orang baru yang hadir di Majelis Al Glundungi tentu saja sangat penting. Karena majelis ini dibuat memang agar semua yang ada di dalamnya sama-sama belajar dan berbagi ilmu pengetahuan. Dan, kami pun sangat bersyukur karena acara ini berlangsung dengan lancar dan damai. Tak ada penjagaan ketat dari aparat kepolisian, TNI, Banser, atau FPI.

image

image

image

“Kurangnya cuma satu. Listrik,” celetuk Bu Mia.

Ya, kita kembali lagi ke zaman nabi dimana tak ada listrik, sound sistem, dan tak ada mikrofon untuk bicara. Tapi, ini bukan masalah besar. Dan kita sebagai warga Kalimantan memang sudah biasa dengan kondisi seperti ini. Kita sudah begitu akrab dengan pemadaman listrik bergilir. Jadi, kalau hanya masalah listrik lalu kegiatan kita urung digelar, tentu sangat konyol sekali. Seperti kata Pak Johan, terlepas dari kekurangan soal listrik, kegiatan yang digelar ini akan mendorong semua orang untuk berbagi kebaikan dan menjunjung tinggi perdamaian.

Karena saya mau sarapan dulu, jadi sekian dulu dari saya. Lain kali akan saya lanjutkan tulisan ini.

Bersambung….

Satu pemikiran pada “Majelis Al Glundungi, Kembali ke Zaman Nabi

  1. ngalkamdulillah akhirnya terlaksana dengan lancar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s