Bukan Tentang Ketela


image

Dari sekian banyak topik diskusi saya dan salah seorang mursyid tarekat Al Glundungi tadi malam, salah satu yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut adalah soal problematika sosial di kampung kami yang kemudian memunculkan dua kutub pemikiran “ekstrim.”

Seperti sekelompok orang punya fanatisme berlebihan, misalnya terhadap ketela (telo : Jawa). Kelompok ini memandang semua ketela itu baik dan dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah sekalipun. Saking fanatiknya, kadang-kadang ketela kadaluarsa pun mereka anggap sebagai penganan bergizi.

Sementara kelompok lainnya yang memang anti terhadap makanan tradisional seringkali menuding bahwa kelompok yang suka makan ketela adalah sekumpulan orang-orang ndeso bin kampungan. Tradisi mangan telo, menurut mereka adalah suatu perbuatan tercela dan menjadi aib jika diketahui oleh masyarakat luas.

Tapi, hal seperti ini tidak hanya terjadi di kampung kami. Kami tahu betul, dua kutub pemikiran ekstrim seperti ini sudah ada sejak dulu. Dan kami juga siap ketika kelompok pertama menuding pemikiran kami sejalan dengan kelompok kedua. Kami juga tak masalah ketika di kemudian hari, kelompok kedua menganggap kami sebagai toghut karena misalnya, mereka memergoki kami makan siang dengan ketela mentah.

Kami sudah siap dengan segala bentuk kesalahpahaman itu. Karena kami memang sedang berada diantara dua kelompok salah paham yang bermazhab salah paham, berideologi salah paham, bernafaskan salah paham, dan sama-sama suka nguntal sandal bermerk salah paham.

Batulicin, Selasa 19 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s