Wangsit dari Mbah Glundung (Bagian II)


image

Merubah mental masyarakat rupanya memang tak semudah ngorok di di ruang sidang paripurna DPR atau seperti mudahnya para koruptor nilep duit negara. Tapi inilah yang disebut sebagai perjalanan hidup. Dan perjalanan hidup saya memang sudah ditakdirkan untuk berada di tengah-tengah masyarakat jahiliyah modern.

Kalau saja Mbah Glundung tidak memaksa saya untuk berdakwah, tentu saya tidak sudi untuk mendakwahi masyarakat di kampung ini. Sial benar nasib saya. Padahal perintah ini benar-benar bertentangan dengan hati nurani saya sebagai seorang manusia.

Daripada harus berdakwah di kampung, saya lebih suka bersemedi di lereng Gunung Tinggi sembari menikmati hembusan angin yang masih sangat segar, jauh dari polusi asap, atau dari bau mulut orang-orang munafik.

Lagipula saya memiliki karakter yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan kakak seperguruan saya, Syaikh Slamet Al Maklumi yang begitu kuat memegang tarekat Al Maklumi-nya. Menurut saya, Syaikh Slamet benar-benar mewarisi sebagian besar ilmu ajaib Mbah Glundung yang begitu tinggi. Saya juga tidak bisa menjelma seperti Mbah Klowor si raja mbeling yang tak ada satupun orang yang bisa memahami jalan pikirannya kecuali gurunya sendiri.

Jadi, bagaimana caranya saya harus mendakwahi masyarakat yang sudah begitu akrab dengan perbuatan maksiat. Belum lagi kelakuan para muda-mudinya yang sudah kelewat batas. Saya tak mungkin menggunakan metode dakwah Mbah Klowor yang nyeleneh itu. Kalau Mbah Klowor ada disini, dia pasti akan menghalalkan minuman keras dan mengimbau agar para pemuda disini menggelar seks bebas berjamaah di perempatan jalan.

Tapi tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu Allah memberikan kekuatan yang tidak terduga sehingga membuat saya sukses dalam dakwah perdana ini. Baiklah saya akan mencobanya.

Pertama-tama saya mengunjungi lokalisasi prostitusi yang berada di sebelah selatan kampung ini. Setibanya disana, saya sampaikan pesan-pesan kebaikan. Dan saya mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Tapi salah seorang wanita berpakaian minim justru menasehati saya. “Lebih baik kau bersihkan hatimu dahulu. Sebab di dalam lubuk hatimu masih terselip nafsu untuk mengurusi urusan orang lain,” katanya, sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. “Lagipula, kami bukanlah orang yang sengaja melakukan ini, sebab tak ada pekerjaan lain yang layak untuk orang-orang seperti kami. Apalagi di tengah segala kesulitan ini, kami tak bisa banyak berharap kepada negara.”

Kemudian saya datangi sekelompok anak muda yang sedang asyik menikmati irama house music sembari meminum pil berwarna kuning. Saya mengajak mereka untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan solat. Tapi mereka menolak mentah-mentah. “Kami ini tidak sedang bermaksiat. Justru kami sedang berzikir kepada Allah,” ujar salah seorang di antara mereka, sembari menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan.

Suatu kali saya pernah memergoki sepasang muda-mudi sedang melakukan persetubuhan di kebun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Kalau saja tak ingat pesan guru saya, sudah saya tampar wajah-wajah yang penuh kemesuman itu.

Saya atur jalan napas. Lalu saya menasehati mereka. Saya katakan bahwa perbuatan mereka dilarang keras oleh agama. Bahkan kalau ketahuan oleh warga, mereka bisa diarak keliling kampung.

Tetapi anehnya, mereka tidak marah. Tidak pula merasa takut. Sepasang muda-mudi itu justru menawari saya untuk melakukan threesome.

Ya Allah, berat sekali rasanya untuk menolak. Di tengah pergulatan batin yang luar biasa, tiba-tiba dihadapan saya muncul sesosok bayangan yang tidak asing lagi. Ya, dia adalah Mbah Klowor, manusia super aneh yang kehadirannya benar-benar tidak pernah saya harapkan.

Sambil cengengesan, Mbah Klowor berkata, “Kau tentu belum pernah melakukannya. Lumayan lho, gratis. Daripada harus membayar di lokalisasi, kualitasnya belum tentu setara.”

Saya tersungkur. “Ya Allah, berat sekali engkau memberikan ujian untuk hambamu. Tidakkah engkau akan memberikan sedikit kekuatan?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s