Wangsit dari Mbah Glundung (Bagian 1)


image

Saat saya sedang bersemedi di lereng Gunung Tinggi, tiba-tiba Mbah Glundung mendatangi saya. Sambil menepuk-nepuk pundak saya, beliau berkata, “Jangan engkau terus-terusan bersemedi disini. Sekali-kali turun gunung-lah untuk melihat perkembangan masyarakat di daerah ini,” begitu dawuh beliau.

Ah, padahal saya sudah jenuh sekali. Saya jenuh dengan segala kemunafikan dan kebobrokan, persis seperti puisi yang dibacakan WS Rendra di konser akbar Kantata Takwa Samsara pada tahun 1998 yang berjudul “Kecoak Pembangunan”. Dari sekian banyak puisi, Kecoak Pembangunan termasuk puisi favorit saya sepanjang masa.

WS Rendra berkata, “Dengan senjata monopoli menjadi pencuri. Dilindungi kekuasaan merampok negeri ini. Ngimpi nglindur disangka pertumbuhan. Hutang pribadi dianggap hutang bangsa. Suara dibungkam agar dosa berkuasa.”

Di bagian akhir, Mbah Willy berteriak lantang, “Ngakunya konglomerat, nyatanya macan kandang. Ngakunya bisa dagang, nyatanya banyak hutang. Passpornya empat, kata buku dua versi. Katanya pemerataan, nyatanya monopoli. Kecoa…kecoa…ke…co..a…”

Puisi ini dibacakan penyair kelahiran Yogyakarta itu dengan sangat lantang di tengah lagu Balada Pengangguran dan dinyanyikan Iwan Fals dan kelompok musiknya Kantata Takwa. Yang saya kagumi karena puisi ini masih begitu relevan dengan kondisi negara setelah 18 tahun reformasi.

Sepertinya saya tak perlu menafsirkan puisi tersebut. Sebab segalanya sudah tertulis dengan gamblang. Bahkan, upaya pemerintah untuk melakukan pemerataan pembangunan, nyatanya hanya monopoli, bagi-bagi proyek yang tentu saja hanya menguntungkan para konglomerat dan pemodal-pemodal asing.

Karena alasan itulah saya jadi tidak begitu tertarik lagi untuk berbuat sesuatu, atau setidaknya melakukan upaya-upaya sistematis agar republik ini bisa menjadi lebih baik. Tapi kalau dipikir-pikir, saya ini siapa? Jangankan merubah satu negara, untuk merubah kebiasaan buruk masyarakat di kampung saja saya tidak mampu.

Lihatlah disana, ada sekelompok anak muda yang sedang asyik menikmati rokoknya. Padahal seragam sekolahnya masih menempel di badan mereka. Ada pula sekawanan pemuda yang sedang asyik menggelengkan kepala sambil menikmati house music. Sementara di tangannya masih tersisa beberapa butir pil berwarna kuning. Di sudut lainnya, muda-mudi sedang asyik berpelukan sambil berciuman di tempat umum.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. “Bagaimana kalau mereka hanya berduaan di tempat sepi. Jangan-jangan mereka sudah begitu pandai mempraktikkan doggy style?”

Tiba-tiba lamunan saya buyar. Mbah Glundung menampar wajah saya. Plakkkk…!!!
“Kenapa engkau melamun? Seharusnya kau mencari solusi untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan agar para pemuda di kampungmu meninggalkan hal-hal negatif yang akan merugikan dirinya sendiri, bukannya menghayal bagaimana gaya doggy style itu.”

“Tapi mbah. Saya sudah muak,” saya menimpali. “Semuanya hanya berisi kemunafikan yang tak ada ujung pangkalnya. Lagipula saya pasti tak akan mampu mengubah kondisi negeri yang sudah terlanjur sakit seperti ini.”

“Pesimisme itu tak ada gunanya. Segeralah turun gunung untuk berdakwah. Kau tak perlu khawatir dengan kegagalan, sebab dari kegagalan itulah kita akan belajar,” katanya.

“Tapi mbah,” saya menyela.

“Sudah, turuti saja perkataanku. Kelak engkau akan bertemu dengan orang-orang pilihan Tuhan yang akan mendukung dakwahmu,” kata beliau.

Jantung saya berdegub kencang. Keringat dingin mengucur deras hingga membasahi celana dalam saya. Lalu Mbah Glundung melanjutkan dawuh-nya. “Ambil wudhu dan sholat-lah. Semoga engkau mendapatkan petunjuk,” katanya. Karena takut ditampar lagi, saya segera berwudhu dan melaksanakan sholat sunnah dua raka’at.

Ketika saya hendak mendatangi Mbah Glundung, saya sudah tidak melihat batang hidungnya. Yang tertinggal hanya bau parfumnya yang sangat menyengat. Nyaris serupa dengan parfum gadis-gadis yang biasa mangkal di lokalisasi prostitusi. Tiba-tiba, plaaaaakkkkkkkkkk!!!! Pipi saya terasa panas sekali! Mbah Glundung menampar saya dengan sandal jepitnya!

“Ampun Mbah…”

Baiklah, sepertinya saya memang harus segera turun gunung…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s