Empat Mata dengan Abu Bakar Al Baghdadi


image

Sebenarnya saya kurang hepi saat pemimpin redaksi di koran harian tempat saya bekerja menugaskan saya untuk mewawancarai Abu Bakar Al Baghdadi. Ya, siapa yang tidak kenal pria berjenggot lebat dengan postur tubuh tinggi besar itu.

Beliau adalah pemimpin organisasi ISIS yang terkenal sangat radikal. Bahkan, dari selentingan yang saya dengar dari orang-orang pesantren, Abu Bakar Al Baghdadi dan anak buahnya sering meledakkan makam nabi dan para ulama di Timur Tengah.

Saya sendiri bukanlah jurnalis yang kebal senjata tajam, apalagi senjata api. Wong sama istri sendiri saja masih takut. Bagaimana mau bertatap wajah dengan teroris paling sadis di muka bumi. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau saya tidak mematuhi perintah atasan, saya terancam dipecat.

Wah, tentu saya tidak mau hal itu menimpa saya. Apalagi kondisi perekonomian sekarang seperti berada di titik nadir, semuanya serba sulit. Harga kebutuhan pokok semakin tak terjangkau, sementara gaji jurnalis tak pernah mendapat perhatian dari para pemimpin perusahaan media.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk mematuhi perintah pemimpin redaksi saya. Biarlah, urusan nyawa, itu sudah ditentukan oleh Tuhan yang maha segala-galanya. Saya pasrah saja. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menemui Abu Bakar Al Baghdadi di sebuah tempat yang tidak akan pernah saya sebutkan disini.

“Mohon maaf Syaikh Abu. Saya sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk melawan antum. Saya datang kesini hanya karena ditugaskan oleh pemimpin redaksi saya. Kalau tidak patuh, saya akan dipecat dari pekerjaan ini. Dan kalau sudah dipecat, saya tentu sulit untuk mencari pekerjaan,” dengan sangat hati-hati saya mencoba menjelaskan latar belakang pertemuan itu.

Abu Bakar Al Baghdadi yang menggunakan jubah hitam manggut-manggut. Sementara saya masih tertunduk seperti seorang murid yang sedang dihukum oleh gurunya karena sering mendapat nilai merah.

Saya benar-benar takut. Jantung saya berdegub kencang. Apalagi saya tahu betul, kalau Syaikh Abu ini suka main tempeleng. Saya mencoba mengatur jalan nafas dan berupaya rileks agar berbagai pertanyaan yang saya ajukan bisa diterima nalar beliau.

Wawancara saya dengan pemimpin nomor satu ISIS itu hanya ditemani secangkir kopi hitam dan sanggar tiwadak. Tapi beliau sempat protes karena tidak mengaku menyukai kopi. Karena kata beliau, Nabi Muhammad tidak pernah minum kopi. “Kopi itu bid’ah ndolalah,” katanya.

“Maaf syaikh. Tapi kan ini cuma makanan. Kalau kita solat subuh tiga raka’at, atau semua hal yang termasuk urusan pokok-pokok dalam agama itu baru ndolalah. Lha kalau cuma kopi, asal tidak berlebihan kan tidak masalah,” saya coba menjelaskan.

“Antum nggak usah ngajarin saya! Pokoknya saya tidak suka,” kata beliau, dengan nada agak tinggi.

Baiklah, sebaiknya kita mulai saja wawancara ini. Daripada saya harus adu argumentasi, ujung-ujungnya malah saya yang ditempeleng. Tapi, saya langsung ingat pesan Syaikh Slamet Al Maklumi, bahwa segala sesuatu itu harus dimaklumi. Termasuk soal kopi tadi. Padahal bagi saya, hukum minum kopi itu hampir wajib, wong tiap hari saya minum kopi. Kalau beliau mengharamkan, ya sudah. Saya hormati. Eh, saya maklumi.

Setelah selesai berbasa-basi ria, saya langsung mencoba menanyakan beberapa pertanyaan titipan pemimpin redaksi. Sebenarnya hal ini juga menjadi tanda tanya besar buat saya pribadi. Apa benar ISIS bentukan Amerika, dan bagaimana awal mula terbentuknya ISIS itu?

Sore itu, beliau menceritakan semuanya. Pertama-tama, ia membantah bahwa awal terbentuknya ISIS adalah inisiatif dari Amerika Serikat. Keberadaan ISIS, kata beliau, justru dalam rangka balas dendam kepada pemerintah Amerika atas invansi negeri Paman Sam ke Irak belasan tahun silam.

“Ini adalah bentuk balas dendam karena tentara Amerika telah membunuh rakyat tak berdosa, memperkosa wanita-wanita, dan mengambil seluruh sumber daya alam yang kami miliki,” Abu Bakar Al Baghdadi menjelaskan dengan sangat berapi-api. “Saat semuanya terjadi, kami masih anak-anak. Kami benar-benar dendam dengan mereka. Kebetulan saat itu, ada yang mengajak kami untuk membentuk organisasi dalam rangka balas dendam kepada orang-orang Amerika. Disana, kami dilatih bagaimana cara menembak, membunuh, dan bagaimana cara berperang.

Saya menyimak semua yang diucapkan Abu Bakar Al Baghdadi dengan sangat serius. Tak lupa saya mengaktifkan recorder ponsel, agar tidak ada satu kata pun yang tertinggal.

“Sebentar…sebentar,” saya memotong. “Tapi bagaimana dengan isu bahwa ISIS suka membongkar dan menghancurkan makam para nabi dan para wali. Apakah itu benar?”

“Ya benar sekali. Menurut kami, sebagian umat Islam telah melakukan kesyirikan-kesyirikan besar. Mereka menyembah kuburan nabi dan wali-wali itu, lalu mereka meminta-minta disana. Dan perbuatan seperti itu harus diberantas sampai ke akar-akarnya.”

Beliau melanjutkan omelan-omelannya. Sementara saya masih khusyuk mendengarkan.

“Saya juga tidak habis pikir. Kenapa sebagian umat Islam malu-malu mengakui bahwa kami beragama Islam. Soal tingkah laku kami yang dinilai ekstrim atau radikal, itu tidak lain untuk menegakkan tauhid di bumi Allah ini. Dan memang seperti itulah ajaran nenek moyang kami.”

“Kalau saja, belasan tahun silam Amerika Serikat tidak menyerang dan meluluhlantahkan negeri kami, pasti tidak akan terjadi kerusakan di negeri ini. Mereka juga sengaja memunculkan benih-benih perpecahan dengan mengangkat pemimpin dari mazhab yang bukan dari kelompok mayoritas di negara kami. Hal ini tentu membuat konflik tambahan yang membuat rumit persoalan di negeri kami. Akhirnya, situasinya benar-benar menjadi kacau. Kami pun tak bisa berbuat apa-apa karena saat itu, kami masih anak-anak.”

Ah, ternyata seperti itu. Nafas saya agak sesak. Di satu sisi, mereka memang terzalimi. Tapi disisi lain, mereka juga salah karena telah banyak melakukan pembunuhan dan menghancurkan makam para nabi dan para ulama. Lalu bagaimana?

Ah, saya tak mau ikut-ikutan memikirkan masalah itu. Wong, persoalan dapur saya sendiri saja belum beres. Lebih baik saya fokus untuk menyambung hidup dan mencari cara agar anak istri saya bisa makan.

Setelah puas dengan jawaban-jawaban Abu Bakar Al Baghdadi, saya pun pamit. Saya menyalami beliau, dan sebagai penghormatan terakhir, saya ingin mencium tangan beliau. Sayangnya beliau menolak. “Bid’ah ndolalah,” katanya.

Satu pemikiran pada “Empat Mata dengan Abu Bakar Al Baghdadi

  1. Apa ini asli? Maaf, bukan berarti meragukan hanya saja ini adalah dunia maya yang sangat mudah untuk dipalsukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s