Beatles Terinfluence Tielman Brothers, Hoax Paling Memalukan Abad Ini!


image

Puja Mandela

Kalau kata teman saya yang lulusan pesantren, orang sok tahu itu biasanya cuma modal satu buku tapi sudah merasa paling pintar. Lalu dengan ilmu “sebuku” itu, ditambah modal pede dan kengawuran, ia sudah berani mengeluarkan fatwa halal haram, benar dan salah. Kebanyakan dari kelompok orang seperti itu selalu ngeyelan. Merasa dirinya lah yang paling benar.

“Tapi itu lebih baik,” kata saya, “Dari pada sekelompok orang yang cuma modal satu artikel, lalu sudah berani berfatwa, dan gembar gembor sana-sini. Benar-benar memprihatinkan.”

Hal yang sama terjadi dalam kasus sebuah artikel tentang sebuah band amatiran bernama The Tielman Brothers yang dianggap sebagai band yang memengaruhi The Beatles. Rupanya banyak sekali orang-orang awam yang termakan informasi sesat menyesatkan ini.

Dan menurut saya, ini adalah hoax paling memalukan abad ini. Bahkan, sampai membuat pak Pandu Ganesa sebagai master Beatles Indonesia angkat bicara. Sayangnya, beliau sudah berpulang, jadi saya tak sempat bicara banyak dengan beliau.

Saya menulis ini tidak lain untuk melanjutkan wasiat pak Pandu yang menyarankan agar para fans Beatles Indonesia menulis artikel bantahan. Ya, karena menerima wasiat tersebut, saya melakukan semampunya. Walaupun saya tahu, ini bukanlah hal yang mudah, karena yang “dilawan” adalah orang-orang yang sudah terlanjur mengonsumsi pil bernama hoax. Heuheu…

Sebelumnya sudah pernah saya tulis dua artikel bantahan. Silahkan simak disini https://pujamandela.wordpress.com/2015/05/26/beatles-terinspirasi-tielman-brothers-itu-hoax/atau disini http://m.kompasiana.com/puja-mandela/indonesia-numpang-tenar-lewat-tielman-brothers_566242d85c7b613e0549517b

Ternyata bukan saya saja yang geli melihat artikel “Beatles terinspirasi Tielman Brothers”, menurut Pak Pandu dalam tulisannya, om Adam, seorang Beatlemania berang bukan kepalang. Bahkan kata beliau, kalau tidak ada klarifikasi tentang postingan hoax itu, lebih baik Indo Beatlemania Club bubar saja. Wah wah… Segitunya…

Bahkan saya yakin, sebagian pecinta Beatles di dunia akan tertawa terbahak-bahak saat ada klaim bahwa Tielman Brothers adalah inspirasi Beatles. Sebagian lainnya mungkin marah karena tak terima dengan artikel tidak bertanggung jawab yang sudah terlanjur tersebar di dunia maya.

Tapi saya imbau, fans Beatles di Indonesia tak perlu khawatir. Kita maklumi saja orang-orang yang percaya dengan informasi tersebut. Mereka kan tidak tahu bahwa sudah ada ratusan buku yang mengulas tentang The Beatles dan tidak ada satupun yang bicara tentang hubungan antara Beatles dan Tielman Brothers. Baiklah, dari pada repot-repot menulis ulang, disini saya akan meneruskan tulisan Pak Pandu saja.

Simak baik-baik ya pak, bu, pakde, om, tante, duz, su. Kalau bisa nyimaknya jangan sambil ngemut sandal. Heuheu…

Asal mula keriuhan ini dimulai dari  blog http://bayuhape.multiply.com/reviews/item/16 yang memuat  rujukan kalimat “tendensius” dan “provokatif” (kayak istilah orba ya?) seperti ini:

“Konon, Paul McCartney ternyata mengagumi band ini dan terinspirasi The Tielman Brothers sebelum The Beatles terkenal pada awal 1960-an. Maklumlah, The Tielman Brothers telah membawakan lagu-lagu rock n roll jauh sebelum The Beatles muncul. Saat The Beatles manggung pertama kali di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat penampilan The Tielmans Brothers yang manggung menggunakan Hofner Violin bass. Dan saat itulah untuk yang pertamakalinya Paul melihat Bass Violin Hofner. Andy Tielmans sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Fender sengaja mengirim representative-nya ke Jerman saat itu untuk merancang gitar buat Andy Tielmans.”

Padahal, berita aslinya tidak seseram itu, perhatikan situs tentang Tielman Brothers dan Beatles ini :http://indorock.pmouse.nl/hamburg.htm danhttp://indorock.pmouse.nl/hamburg2.htm

Di situ hanya diceritakan, mereka (Beatles dan Tielman Bros) main di tempat dan periode yang sama (artinya, mereka sesama entertainer saja di tempat-tempat itu). Jangan lupa, Hamburg pada awal 60-an adalah salah satu pelabuhan utama Eropa, dan belum ada sarana kontainer, jadi kalau bongkar muat perlu waktu lama, maka para kelasi perlu dihibur. Klub-klub ini merupakan klub kecil di bilangan lampu merah saja.

1960 Indra Club (17-08 t/m 03-10)
1960 Kaiserkeller (04-10 t/m 30-11)
1961 Top Ten Club (01-04 t/m 02-07) opnamen Tony Sheridan & The Beat Brothers 22+23/06 (My Bonnie enz)
1962 Star Club (13-04 t/m 31-05)
1962 Star Club (01-11 t/m 15-11)
1962 Star Club (18-12 t/m 31-12)

Kemudian, dari buku “Shout” karangan Philip Norman (kebetulan saya punya bukunya, jadi bisa dicek kebenarannya)  disebutkan bahwa Beatles main di tempat yang sama (Kaiserkeller) dengan grup Indonesia yang menyanyikan lagu-lagu Belanda dari atau bergaya  Elvis. Sekedar catatan: buku Philip Norman ini sama sekali bukan definitif biografi, malah banyak dikritik karena nara sumbernya terlalu jauh alias tidak sahih.

Uit het boek: The Beatles; de definitieve biografie / door Philip Norman/ oorspronkelijke titel: Shout! (c) 1981

…….halverwege de Grosze Freiheit, een zijstraat van de Hamburgse Reeperbahn, kwam Allan Williams (1e manager van The Beatles) in het voorjaar van 1960 toevallig terecht in een in een keldertje gevestigde club, de Kaiserkeller. Die was geheel in nautische stijl ingericht en had middenin een kleine dansvloer waarop druk werd gedanst op muziek van een Indonesische groep die in het Duits songs van Elvis ten gehore bracht…………het optreden van The Jets (met Tony Sheridan) in de Kaiserkeller was zo sensationeel geweest dat eigenaar Bruno Koschmider had besloten zijn Indonesische Elvis-imitatoren te ontslaan en uitsluitend nog Engelse rock & roll ten gehore te brengen….

Sumber-sumber lainnya hanya menceritakan bahwa  mereka sekedar saling ketemu dan seterusnya. Kalau toh ada yang agak nyerempet, begini komentarnya:

Tekst op de Indo-Rock site  van Hennie van Ernst (30-06-1998) (wordt niet meer onderhouden)

It is said that the Beatles enjoyed their shows in Germany and some Tielman Brothers early recordings do remind clearly some Beatles’ interpretations

Uit het boek Dangerous Crossroads by George Lipsitz, San Diego (sept. 1998)

…..the Tielman Brothers stole the show with their wild rock’n’roll songs and acrobatic antics. They tossed guitars across stage, played the guitar and bass with their toes and teeth, and played their instruments behind their heads and upside down. Popular everywhere in Europe, they developed a particularly enthusiastic following in Hamburg, Germany where they may have been an important early influence on the Beatles.

Untuk pernyataan yang kedua, saya mau berkomentar: Tetapi bukankah aksi gila-gilaan itu juga dilakukan oleh “SEMUA” band di Hamburg? Ingat kan teriakan legendaris ini?  “Mach Schau, Mach Shau” (Make Show, Make Show), artinya para penonton minta kepada si artis untuk main sambil nungging biar seru. Bisa saja si Tielman yang memulainya, dan atas nama selera pasar si Beatles pun juga harus ngikuti maunya penonton. Biar laris!

Semua orang juga tahu dari rekaman Live in BBC, Beatles itu “nyontek” habis rock n roller Amerika, PERSIS SAMA dengan yang dilakukan Tielman. Belakangan Beatles bikin style rock n roll  sendiri. Dari segi stage-act (ini istilah majalah Aktuil), Beatles nungging-nungging itu hanya ada dan terjadi di Hamburg. Ketika mudik ke Liverpool, mereka sama sekali nggak melakukan tradisi Hamburg  alias tidak terpengaruh. Coba lihat video mereka bawakan lagu Shout itu, itu kan otentik sekali. Sekian tahun kemudian, John rekaman, nyanyi sambil tiduran/telentang, hanya  karena ingin mendapatkan efek suara yang lain,  dia terobsesi ingin mengubah-ubah warna suaranya, dan bukan karena kesambet arwah Tielman.

Saya sendiri malah lebih tertarik dengan sisi manusiawi Beatles yang niat jualan sepatu cowboy-nya, karena kehabisan duit, sebagai berikut :

Once an evening there were English talking guys with Western outfit listening to us, presenting them as The Beatles from Liverpool. They played at Indra and from August 1960 as second band with Rory Storm in the Kaiserkeller. As they didn’t earn so much money they offered us to buy their cowboy boots, but we were not interested in that, instead of that we paid their drinks and some more small things as a sandwich or so.

Sekarang perhatikan dampak dari pernyataan bahwa Beatles terinspirasi oleh Tielman ini, saya ambil dari komentar-komentar di blog itu dan blog lainnya yang link dengan blog yang pertama:

baru tau kalo ada band indonesia yang the beatles aja ngefans sama ini band

======

semar1984 wrote on May 16

busyet….ga disangka dan ga menyangka…

dasyat………bener….

napa dari thn1956 baru terdengar hari ini??

trs yg tahun kemarin,kemarin,kemarin,dan kemarinnya kmn??

pada tidur kali ya…wakakaakakakaa….

seharusnya bukanya The Beatles yang pertama kali mainin musik Rock And Roll

tp The Tielman Brothers lah yg pantas…

ra injih ngeten niku tow kang mas bayu seto..eh..bayuhape..

sependapat kalihan dimas semar mboten???

huahahahahahahaaaaa…..

Jadi para sejarawan Beatles, silakan banjiri blog di atas dengan bantahan, data, ilmu, dan komentar Anda bahwa pernyataan  di atas adalah laku lajak (eh bahasa indonesia yang ini artinya: over acting alias kebablasan) dan berlebihan. Komentar kalian di blog itu  akan lebih berbudaya, cerdas, dan mangkus serta sangkil (kamsudnya: efffektif dan effisien) daripada demo di Monas. Maka kalau argumentasi kalian benar dan bisa diterima, niscaya runtuhlah reputasi dan integritas si penulis.

Oh ya, di situs satunya, ada fotonya Andy Tielman lagi session sama Sore, dan Sore itu adalah oom Awan Garnida, dan dia ikutan milis indobeatles ini (meskipun tidak aktif kayaknya), mestinya oom Awan bisa kasih klarifikasi juga tentang opa Andy ini. Di milis claro, disebutkan si opa juga datang waktu acara  ultah majalah Rolling Stone Indonesia. Usia  72 tahun, tapi masih nyentrik, katanya.

Demikian tulisan Pak Pandu Ganesa, orang yang menurut saya sangat paham tentang dunia perbitelan. Sebagai informasi, beliau adalah satu dari sedikit pecinta Beatles yang sudah pernah ziarah ke studio Abbey Road yang legendaris itu.

Beliau juga pernah mengunggah foto di Cavern Club dan mengatakan, “Saya sudah pernah kencing di tempat ini.”

Tapi saya yakin, fakta-fakta yang ditulis oleh pak Pandu Ganesa ini juga tidak akan dipercaya oleh orang-orang awam yang kebanyakan justru tidak mengenal siapa itu The Beatles dan seberapa besar pengaruhnya terhadap perkembangan musik populer sampai hari ini. Yaa harap maklum. Namanya saja orang awam. Heuheu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s