Rindu yang Kemarin


image

Dimana, rindu yang kemarin
Yang pada senja, ia terperangkap di sepasang matamu,
lalu kau kerlipkan cahaya bagai dua purnama yang tak pernah mampu kujamah, sebab air laut telah pasang

Dimanakah, ia bersembunyi
Bukankah kita sudah berikrar bahwa satu cangkir kopi itu, akan kita nikmati bersama di tepi telaga yang airnya bening
tenang
terjaga

Ataukah ia sudah melebur bersama nada-nada yang kau nyanyikan dulu? Yang katamu, semuanya hanyalah perjumpaan sementara
Lalu ia menjelma burung perkutut yang salah satu sayapnya tergores luka
berdarahdarah, hingga patah

Bersama petikan gitarku, aku tahu bahwasanya ia telah mengembara, jauh ke padang pasir kering nan tandus
ia telah menjadi seekor unta berjalan lamban, tak tahu kemana harus menuju
Ia tak lagi menarinari, bergumul mesra di sela belaian senja yang menemaram

Kaupun pasti lupa, dimana kita mencipta katakata,
Apakah di tepi telaga,
Atau saat jemarimu merambat mesra, lalu lebur dalam degub dada yang menggemuruh

Ingatkah, wahai
Perjamuan itu,
bibirmu
bibirku
gerimis senja

Disana,
Disanalah rindu tercipta, rindu kita,
Rindu yang kemarin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s