Radikalisme Warung Kopi


image

Bagi sebagian orang, nongkrong berjam-jam di warung kopi memang sangat mengasyikkan. Apalagi jika topik pembicaraan sudah mengarah ke masalah politik, konflik sektarian atau soal kebencian para teroris kepada aparat kepolisian. Lho, apa urusannya teroris benci polisi? “Ya mungkin mereka melihat polisi tidak sebagai pelindung dan pengayom masyarakat lagi.

Sekarang polisi sudah dianggap sebagai pekerjaan sampingan,”kata kang Jarwo, sambil menghisap rokok kreteknya yang tinggal setengah batang. “Lalu, profesi utamanya apa?”kata Darman, serius. Belum sempat saya nyeruput kopi yang baru dipesan, teman saya yang baru datang langsung nyeletuk. “Pengusahaaaaa…..!” “Bisa pengusaha tempe, bisa juga jadi pengusaha telo,”kata Jarwo, sambil cekikikan.

Kebanyakan pengamat menilai, aksi terorisme berakar dari paham radikalisme yang berkembang pesat di Timur Tengah. Konon, paham radikal tersebut sudah tumbuh subur di Indonesia yang masyarakatnya dikenal sangat moderat. Mungkin karena begitu moderat itulah, masyarakat Indonesia nerimo saja ketika paham ekstrim menyelinap masuk ke Tanah Air.

Begitulah obrolan warung kopi. Logikanya memang sangat liar. Sementara topik yang dibahas selalu update. Sesuai dengan topik yang menjadi trending topic di dunia maya. Terlepas si pak polisi mau jadi pengusaha atau mau punya usaha sampingan ya terserah beliau-beliau lah. Saya tak mau terlalu jauh membahas itu. Tapi saya tak setuju kalau mereka yang benci lalu menilai bahwa darah setiap polisi itu halal. Wah, kaya tulisan arab dikemasan mie instan saja.

Selain liar, obrolan dan isu-isu yang berhembus dari warung kopi sangat sulit dibendung. Memangnya siapa yang bisa membendung? Bukannya bendung membendung itu urusannya Dinas Pekerjaan Umum Bidang Pengairan. Itu jelas bukan urusan saya. Ya to, pak presiden? . Ribet kan? Itu baru satu topik lho. Masih banyak topik lainnya yang biasa dibahas di warung kopi.

Selain soal telorisme, eh maksud saya terorisme, salah satu topik populer lainnya yakni konflik sektarian dan berbagai aliran dalam agama. Biasanya topik tersebut akan diikuti perdebatan soal aliran apa yang paling benar. Lagi-lagi logikanya liar. Seliar mbak-mbak alumni gang Dolly di Surabaya. Sebagai contoh, seorang teman saya menduga bahwa Gafatar adalah kelompok yang paling benar. Sebab mereka tak pernah mengaku sebagai yang paling benar.

Saat mendengar itu, saya cuma bisa mesam-mesem saja sambil mengangguk tanpa mengiyakan. “Sak karepmu!”bathinku. Terlepas dari berbagai topik yang dibahas, nongkrong di warung kopi memang mengasyikkan. Apalagi jika lokasinya sangat strategis. Bagi saya, warung kopi yang strategis haruslah rindang, sejuk dan tidak berisik.

Bagi para PNS atau tenaga honorer, warung strategis harus berada jauh dari jangkauan Satpol PP. Padahal setahu saya, Satpol PP jarang sekali merazia warung kopi yang biasa jadi tempat nongkrong para PNS. “Ya jelas jarang. Wong Satpol PP-nya aja suka nongrong di warung kopi”. Halah-halah, benar-benar gawat kalau petugas keamanan semuanya seperti itu. Polisinya jadi pengusaha, lalu Satpol PP-nya malah hobi nongkrong di warung. Ah, emang gue pikirin. Yang penting mbak-mbak yang jualan di warung kopi bukan istri polisi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s