Politik dan Poligami


image

Ilustrasi

Prabowo? Gombal! Jokowi lebih spektakuler,”kata mbah Marwoto, sembari merapikan ikatan sarungnya yang mulai longgar. “Halah-halah, ngapain dukung Jokowi. Prabowo lebih ngganteng dan karismatik.

Pendukungnya juga ganteng-ganteng. Buktinya aku jauh lebih tampan dari kamu. Hikhikhik….”timpal mbah Sarmiji sambil tertawa cekikikan. “Huussss……… Wes wes. Ojo podo ribut. Podo kerene kok do ribut (sama-sama miskin kok pada ribut).

Nggak usah debat politik. Bayar utang dulu! Habis itu mau debat sampe subuh monggo. Sakarepe!,”kata mbak Yati, pemilik warung kopi yang biasa jadi tempat nongkrong dua orang lanjut usia itu. Bener juga kata mbak Yati. Ngopi aja sering ngutang, kok ngomong soal politik. Bukannya melarang, tapi kebanyakan mereka yang pandai bicara politik bukan golongan orang susah seperti mbah Marwoto dan mbah Sarmiji.

Mayoritas pengamat atau mereka yang bergelut di kancah politik nasional merupakan orang yang sudah mapan baik dari segi materi maupun dari segi keilmuan. Lha kalau yang debat orang-orang susah? Ngobrol soal politik memang lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Tidak sedikit hubungan pertemanan menjadi renggang hanya karena perbedaan pandangan dalam politik. Saya sendiri memilih melarikan diri saja, daripada terjebak dengan perdebatan pelik soal politik.

Apalagi jika ternyata mbah Marwoto pendukung setia PDI Perjuangan, dan mbah Sarmiji adalah fans fanatik Partai Keadilan Sejahtera. Wah, nggak ikut-ikutan dah. Mending kabur. Cari warung kopi yang lain. Mbah Klowor netral gitu loh! Obrolan-obrolan di atas sebagai contoh kecil betapa sensitifnya persoalan politik di negeri ini. Dan itu baru contoh kecil saja.

Realitanya jauh lebih mengerikan daripada itu. Kedua kelompok yang kontra sama-sama merasa berada di pihak yang paling benar. Merasa sama-sama pantas memimpin Indonesia. Yang harus disyukuri, perbedaan pandangan politik tak akan sampai membawa seseorang mengkafirkan mereka yang tidak sependapat dengannya. Kecuali jika perbedaan pandangan politik ditambah dengan sebuah jurang terjal yang bernama perbedaan sektarian didalam agama. Kalau sudah begini, mbah Klowor juga angkat tangan. Selain politik dan konflik sektarian, ada satu topik yang menurut saya jauh lebih sensitif dan sangat layak berada di urutan nomor satu topik paling sensitif di republik ini.

Poligami! Ada banyak rumah tangga yang memiliki perbedaan pendapat dalam masalah politik. Tetapi tak pernah ada perceraian hanya karena suaminya nyoblos Jokowi, dan sang istri adalah penggemar Prabowo. Dan saya belum pernah mendengar ada perceraian karena perbedaan pendapat di dalam agama. Apalagi kalau perbedaan pendapat tersebut hanya berbeda bendera organisasi massa. Walaupun ada, persentasenya mungkin kecil sekali. Sekecil butiran pasir di pantai.

Tapi soal poligami? Silahkan Anda survei sendiri, berapa banyak rumah tangga yang tercerai berai karena masalah ini. Dan suami mana yang memiliki mental ekstra untuk jujur kepada istrinya bahwa ia telah berpoligami. Kalaupun ada, itu cuma segelintir orang. Mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan. Heuheu… Menurut saya, masalah poligami ini jauh lebih sensitif dari konflik sektarian yang belakangan semakin memanas. Kalau saya ditanya soal konflik Sunni – Syiah, jawabannya gampang. “Semua muslim itu bersaudara.

Di Indonesia tidak boleh ada konflik hanya karena perbedaan pendapat seperti itu. Mari selesaikan dengan dialog”. “Mereka yang jadi kompor harus keluar dari NKRI! Indonesia adalah negara yang damai”. Normatif memang. Tetapi setidaknya jawaban-jawaban tersebut sudah cukup mewakili sebagai langkah untuk menyelesaikan konflik yang belakangan semakin memanas. Apalagi, langkah pemerintah Indonesia yang menjadi juru damai antara Arab Saudi dan Iran akan membantu penyelesaian konflik kedua negara tersebut.

Tapi bagaimana dengan pertanyaan soal poligami. Jangankan saya. Orang nomor satu di Indonesia pasti akan kerepotan kalau menerima pertanyaan soal itu. Kim Jong Un saja mungkin gelagapan jika ditanya soal poligami. Apalagi jika jawaban soal poligami itu disampaikan dihadapan wartawan media cetak dan elektronik lalu kemudian disiarkan ke seluruh dunia. Dan kalau Barrack Obama nonton, dia pasti ketawa cekikikan. Bagaimana bisa, seorang pemimpin negara komunis tulen bisa gelagapan saat menerima pertanyaan dari para wartawan.

“Apakah Anda setuju dengan poligami. Kalau setuju, kapan Anda akan melakukannya?”kata wartawan. Kim Jong Un jelas diam tak berkutik. Wong saat ditanya, istrinya berada disampingnya. Sambil melotot istrinya berkata, “nek njawab tak bedil kowe!!! Ayo jawab!”. Melihat wajah pemimpin Korea Utara itu pucat pasi, Barack Obama tertawa terbahak-bahak. Tetapi tawa itu tiba-tiba berhenti. Ia terdiam, kemudian meringis. Rupanya, telinganya sedang dijewer ibu Michelle Obama. Halah, podo wae!

Sejujurnya saya belum menemukan formula yang tepat untuk menjawab pertanyaan tentang poligami tanpa menimbulkan kontroversi dan perpecahan piring dan gelas. Mau jawab normatif, susah. Terlalu teknis apalagi. Jauh lebih rumit. Ya sudah sampai disitu saja. Rasanya sudah mentok. Saya nggak mampu menjangkau lebih jauh lagi. “Lha terus, sampeyan setuju nggak sama poligami?” Suatu kali teman saya nanya serius.

Hmm… Piye yo. Topik ini terlalu rumit. Tapi begini lho. Saya punya prinsip bahwa orang yang ditakdirkan untuk berpoligami tidak boleh dikritik, apalagi dicela. Soal keadilan, apa ada pria yang benar-benar adil di muka bumi ini? Dan orang yang mengkritik mereka yang berpoligami sebenarnya hanya karena si pengkritik tidak mampu melakukan hal yang sama. Ketidakmampuan ini bermacam-macam. Dari ketidaksiapan mental, fisik juga materi. Seharusnya kita justru belajar dari mereka yang sukses berpoligami, bukan justru menilai negatif. Kata Mbah Klowor, sesama murid kok ngasih rapot? Lagipula, kata Mbah Klowor, buat apa mengkritisi orang-orang yang berpoligami? Halal kok! Itu kata mbah Klowor lho ya. Bukan kata saya. Hhhh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s