Bangsa Kritikus


image

Amat Banyak

Soal kritik mengkritik, bangsa Indonesia memang ahlinya. Kalau Lembaga Survei Indonesia mau menggelar survei, maka kira-kira 50 persen rakyat di republik ini adalah kritikus ulung. 40 persen sisanya adalah kritikus tingkat provinsi, kabupaten dan tukang kritik tingkat kecamatan.

Soal ini, presiden dan para menteri yang idealnya menjadi objek kritikan pun tidak akan mampu menghindar dari nafsu mengkritik.

Dari data ini, hanya 10 persen rakyat yang abstain. Mereka belum pernah menyampaikan kritik. Ya iya lah, masa bayi, balita dan komunitas cabe-cabean juga ikut-ikutan mengkritik kebijakan pemerintah?

Anda jangan percaya survei ini. Ini survei karangan saya sendiri. Meraba-raba seperti itu kan wajar saja. Apa anda mau mengkritik saya juga, hanya karena saya menulis survei yang ngawur seperti diatas?

Kalau dirunut-runut sejak era reformasi, fenomena kritik mengkritik ini baru mencuat dalam beberapa tahun terakhir. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi dan informasi menjadi salah satu alasan mengapa mayoritas rakyat Indonesia memilih berprofesi menjadi tukang kritik. Untung saja, di zaman Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur hingga Megawati, teknologi internet belum maju seperti sekarang.

Kalau di era Soekarno sudah ada Facebook atau Twitter, bisa-bisa citra presiden pertama Indonesia ini tak seperti yang kita kenal sekarang. Begitu juga kalau media sosial sudah ada di zaman Soeharto, foto-foto aktivis yang hilang, pasti tersebar dengan mudah di Internet. Saya yakin, presiden Soeharto kerepotan mengurusi masyarakat yang kritis kepada pemerintahan orde baru.

Tetapi walaupun tidak sempat di-bully oleh rakyat, presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno juga tak luput dari kritikan. Ia dikritik karena dekat dan terlalu longgar dengan paham komunis dan karena kebijakannya yang melarang musik rock n roll yang sedang ramai di pertengahan 1960-an. Walaupun pada akhirnya ia tetap dicintai mayoritas rakyat Indonesia karena kontribusi besarnya  memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Presiden kedua Indonesia Soeharto yang dikenal sebagai bapak pembangunan mungkin salah satu tokoh yang paling sering menerima kritikan.  Gaya kepemimpinannya yang otoriter menjadi salah satu alasannya. Sebagian masyarakat juga menilai, Soeharto terlalu lama memimpin Indonesia. Walaupun pada zamannya hanya segelintir manusia yang berani mengkritik kebijakan-kebijakan beliau.

Eh, belakangan, sebagian rakyat Indonesia justru rindu dengan sosok beliau. Terbukti dengan banyaknya lukisan bergambar Soeharto dengan wajah tersenyum sembari melambaikan tangannya. Tulisannya, pasti anda sudah hafal, “Piye lee…? Penak jamanku to…?

Pengganti Soeharto juga tak luput dari kritikan.
Bj Habibie diprotes karena kebijakannya melepas Timor Timur. Padahal, tak ada sosok lain di negeri ini yang digelari manusia paling cerdas seperti beliau. Seperti ungkapan, “Pintar seperti Habibie!”

Tokoh yang dikenal sebagai cucu dari pendiri Nahdatul Ulama KH Hasyim Asy’ari yaitu KH Abdurrahman Wahid juga mendapat kritikan luar biasa saat menjadi presiden. Keganjilannya tak bisa diterima sebagian tokoh politik dan masyarakat saat itu.

Ucapannya yang menyamakan institusi DPR dengan sekolah Taman Kanak-kanak mendapat respon negatif. Tetapi seiring waktu, apa yg dikatakan beliau saat itu sudah banyak terbukti dan bisa dipahami.

Kendati namanya sudah mulai berkibar di akhir masa orde baru, tokoh politik yang satu ini merupakan satu-satunya tokoh wanita yang paling menonjol dalam sejarah perpolitikan pasca orde baru. Megawati Soekarno Putri yang tidak lain adalah putri dari Ir Soekarno mendapat banyak kritikan dari lawan politik dan rakyat Indonesia. Puncaknya, saat pemerintah Megawati menjual aset anak bangsa kepada bangsa asing.

Kritikan tak berhenti sampai disitu. Bahkan semakin meningkat di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY yang dipilih langsung oleh rakyat juga tak luput dari kritik masyarakat. Ia dianggap lamban, ragu-ragu dan berbagai citra buruk lainnya.

Rapor buruk Partai Demokrat di akhir masa jabatannya semakin membuat elektabilitas SBY dan partainya merosot tajam. Tapi belakangan, sebagian masyarakat Indonesia kembali terjebak masa lalu. Dan seperti yang sudah-sudah, SBY ternyata dianggap lebih baik setelah ia tak menjabat sebagai presiden.

Bangsa kritikus mencapai puncaknya saat Presiden Joko Widodo memimpin Indonesia. Perseteruannya dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2014 sangat ramai di media sosial. Saat itu, seakan-akan Republik Indonesia terbelah menjadi dua kutub.

Setelah satu tahun memimpin, masih banyak rakyat yang tidak puas. Presiden Jokowi dianggap sebagai pemimpin boneka, tidak punya jiwa kepemimpinan dan lain sebagainya. Anehnya, tak hanya presiden Jokowi yang dikritik, Prabowo Subianto yang baru mencalonkan menjadi presiden pun tak bisa menghindar dari kritik tajam bangsa ini.

Lalu apakah ada pemimpin yang 100 persen mendapat dukungan rakyat, apakah ada tokoh sakti yang bisa ngeles dari kritikan bangsa ini?

Sebenarnya, kritik tidak selalu negatif. Bukankah ada juga istilah kritik positif. Kritik untuk mengingatkan pemerintah kan wajar saja. Yang penting tidak mencaci maki, apalagi menghembuskan fitnah.

Amat Banyak, teman saya di pesantren kilat mengaku bingung. Padahal kata dia, mereka yang memimpin Indonesia adalah tokoh terbaik bangsa ini. Tapi kenapa selalu saja kinerja pemimpin bangsa tidak sesuai dengan ekspektasi mayoritas masyarakat..? Apakah bangsa kita ini sudah dikutuk?

Saya jadi tidak yakin kalau Sang Hyang Tunggal bisa ngeles dari kritikan bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s