Anjing


image

Puja Mandela

Kebanyakan orang lebih mengenal dengan sebutan asu. Seringkali muncul dari mulut para pengumpat. Baik yang bernada serius maupun mereka yang sedang bercanda.

Ia adalah anjing. Bagi sebagian orang, kecerdasan anjing bisa dimanfaatkan untuk membantu manusia. Tapi sebagian lainnya masih menganggap bahwa anjing adalah mahluk kotor dan tak terlalu berguna.

Saat ini, anjing memang dimanfaatkan untuk menjaga keamanan rumah, menemukan orang hilang atau membantu polisi untuk melakukan penyelidikan. Tapi di barat, anjing tetaplah anjing. Ia harus menurut kepada perintah majikan.

Dari sudut pandang fiqih, anjing divonis binatang yang sesat, najis dan haram. Jangankan memakan daging atau terkena  liurnya, menyentuhnya saja dilarang.

Didalam sejarah Islam, hanya anjing yang ada didalam kisah Ashabul Qahfi bernama Qithmir yang akan dimasukkan kedalam surga. Tapi sebagian manusia lupa atau pura-pura lupa, kalau Tuhan menciptakan anjing bukan untuk dijauhi atau dihinakan. Anjing adalah ciptaanNya, dan perlu diingat bahwa tidak ada ciptaanNya yang tidak bermanfaat.

Terlepas dari najis atau haramnya anjing, manusia terlalu suudzon dengan sisi positif hewan bernama anjing. Oke kita sepakat soal najis atau haramnya anjing.  Anggap saja urusan itu sudah selesai.

Tetapi apakah hanya karena anjing itu najis lalu tidak ada sama sekali hal positif dari seekor anjing?

Saya jadi teringat, suatu ketika ada pak haji yang sangat alim dan disegani di kampungnya sedang berjalan menuju Masjid untuk mengimami solat Jum’at. Seperti orang alim kebanyakan, di tangannya terdapat butir-butir tasbih yang terbuat dari kayu jati.

Di satu tikungan, pak haji dihadang oleh anjing besar berwarna hitam. Lidahnya menjulur keluar, sementara air liurnya menetes tak beraturan. Melihat ada anjing dihadapannya, pak haji yang menggunakan jubah dan sorban berwarna putih langsung menghentikan langkahnya.

Tak diduga, anjing tersebut langsung menyerang pak haji dan merobek-robek gamisnya. Mendapat serangan seperti itu, pak haji langsung mengambil kayu berukuran besar dan memukuli anjing tersebut sampai babak belur.

Mendapat perlakuan seperti itu dari seorang yang dikenal alim, anjing tak terima. Anjing langsung lapor kepada Tuhan. “Ya Tuhan, saya mau lapor…!”

“Iya ada apa anjing”jawab Tuhan.

“Saya dipukuli oleh pak haji yang mau berangkat jum’atan itu”kata anjing lagi.

“Hai pak haji, stop, stop dulu. Ada yang mau kutanyakan. Kenapa kamu memukuli anjing hitam itu?

“Dia menggigit saya, sampai gamis ini robek-robek ya Tuhan”

Kemudian Tuhan bertanya lagi kepada anjing, “hai anjing kenapa kamu menggigit dia…?

“Maaf Tuhan, saya melihat pak haji itu adalah orang yang sangat alim dan menyayangi makhlukNya. Dia pakai sorban, gamis dan tasbih. Saya kira dia tak punya marah. Eh ternyata saya salah”

“Lho kok kamu mikirnya sejauh itu? kamu ngaji darimana? belajar sama siapa?,”kata Tuhan.

Dengan bijak si anjing menjawab pertanyaan Tuhan, “itu hasil tafakkur dan ijtihad. Itu hasil kontemplasi saya ya Tuhan,”

“Waduuh, kalau begitu kamu jaaauuuuuuh lebih makrifat daripada pak haji itu”

Dialog imajiner diatas menunjukkan bahwa, di mata Tuhan, seorang manusia belum tentu lebih baik daripada seekor anjing. Seekor anjing bisa saja memiliki nilai-nilai kemanusiaan, sementara manusia sendiri sering hanyut dengan nafsu kehewanan.

Hmmm….  bahkan kepada seekor anjingpun kita harus berprasangka baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s