“Bukan Urusan Saya”


image

Puja Mandela

Tidak semua sensitifitas itu baik. Ðan tidak semua sensitifitas itu tidak baik. Sifat sensitif adalah salah satu anugerah Tuhan yang harus digunakan secara bijak.

Bagi sebuah ponsel pintar, sensitifitas  layar sentuh memang sangat diperlukan. Apalagi di era ponsel Android seperti sekarang ini.

Hal ini juga berlaku bagi manusia. Jika tidak digunakan secara bijak, sensitifitas yang rendah akan menimbulkan banyak kerugian. Begitupula sifat sensitif yang terlalu berlebihan.

Sikap sensitifitas berlebih ini banyak sekali kita temui di media sosial. Trend media sosial saat ini membuktikan bahwa banyak sekali para nitizen yang memiliki sensitifitas berlebih saat menyikapi pemberitaan politik atau artikel berbau agama.

Twitwar di media sosial Twitter bukan lagi hal yang tabu. Setiap hari kita bisa menyaksikan Twitwar antar selebritis, tokoh nasional maupun tokoh politik. Bahkan tidak jarang twitwar tersebut berujung di meja hijau. Misalnya, ketika Ahmad Dhani mengeluarkan kritik bernada absurd kepada presiden Jokowi, eh.. yang tersinggung malah Farhat Abbas.

Bukan apa-apa, tapi ini adalah bentuk sensitifitas berlebih dari Farhat Abbas kepada Ahmad Dhani.

Ini seperti ketika kita menembak macan hutan, tapi justru kucing dapur yang terkena peluru. Kan aneh…

Tetapi menurut saya, para pejabat di Indonesia memang perlu memiliki sense of sensitif yang tinggi. Idealnya, para pejabat harus langsung mengumumkan pengunduran dirinya ketika dirinya menyandang predikat sebagai terduga koruptor. Walaupun baru terduga, pejabat harus langsung mundur. Ya kurang lebih begitu maksud saya.

Mayoritas rakyat Indonesia saat ini menunggu sensitifitas pemerintah pusat menangani bencana kabut asap yang menyelimuti Pulau Kalimantan dan Sumatera. Bukankah selama dua bulan terakhir ini masyarakat korban kabut asap sudah berulangkali memohon agar peristiwa ini ditetapkan sebagai bencana nasional?

Permohonan untuk meminta bantuan internasional pun lambat ditanggapi. Pemerintah baru mengamini permohonan masyarakat untuk meminta bantuan dari negara negara tetangga setelah bencana kabut asap berlangsung selama lebih dua bulan.

Gengsi tak sebercanda itu pakde…!

Sudah dikritik, bahkan sampai dihujat begitu rupa, eh… pemerintah tak juga tersinggung. Marah pun tidak. Pemerintah pusat seperti tidak merasakan bagaimana penderitaan korban kabut asap di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Masyarakat memang cuma pintar mengkritik, tapi pejabat-nya juga ahli ngeles.

“Bukan urusan saya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s