Persatuan Bangsa Melalui Sepakbola? Gombal..!


image

Puja Mandela

Jika sebuah turnamen sepakbola bergengsi di level nasional saja harus dikawal puluhan ribu aparat gabungan TNI/POLRI, itu sama saja menunjukkan tingginya potensi kerusuhan didalam pertandingan sepakbola tersebut.

Kabarnya, puluhan ribu pendukung Persib dan Sriwijaya akan dikawal Brimob bersenjata lengkap. Dihimpun dari dari Humas Polda Jawa Barat, total ada 500 bus yang akan mengangkut seluruh suporter Persib Bandung menuju Jakarta. 500 bus ini tidak hanya dari Bandung saja, tetapi juga ada yang dari Cirebon, Majalengka, Banten dan sejumlah wilayah lain di Jawa Barat.

Selain itu, Polda Jawa Barat menempatkan dua polisi berseragam bebas dan dua polisi Brimob bersenjata. Setiap bus, akan dikawal dua mobil. Selama dalam perjalanan, anggota polisi di Polres setiap kota dan kabupaten akan mengamankan jalur yang dilewati suporter Persib Bandung dari kotanya masing-masing, Sampai ke stadion Utama Gelora Bung Karno.

WWkwkwkwk lucu…!  ini mau nonton bola, atau mau demo penggulingan presiden..? Atau ini bukti rendah-nya nilai-nilai sportivitas suporter sepakbola di republik ini. Sudah menjadi rahasia umum jika antar suporter sepakbola menjalin tradisi permusuhan didalam dan diluar lapangan. Seperti perseteruan suporter Persib Bandung dengan suporter Persija Jakarta.

Kali ini saya setuju dengan pemerintah Indonesia yang membekukan kompetisi Liga Indonesia. Memang ini menimbulkan konsekuensi yang sangat besar, karena banyak pemain yang akhirnya menganggur. Para pedagang kaki lima yang biasanya ikut nimbrung sambil mencari rezeki juga terkena dampak dari kebijakan pemerintah.

Tapi mau bagaimana lagi. Olahraga terpopuler di jagat raya ini tak pernah benar-benar bisa berkembang di Indonesia. Bukannya memunculkan potensi para pemainnya, justru potensi rusuhnya yang selalu menjadi tranding topic.

Bahkan tidak jarang ada pemain yang saling baku pukul saat pertandingan masih berlangsung. “Dikit-dikit rusuh, dikit-dikit rusuh. Rusuh kok dikit-dikit”

Saya terpaksa mengatakan bahwa sepakbola Indonesia bukanlah suatu kebanggaan. Turnamen Piala Presiden yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno Minggu (18/10/2015) tak lebih dari sebuah pelipur lara.

Kalau mental suporter dan para pemainnya sudah dibenahi, dan menjauhi mentalitas ala sepakbola tarkam, saya tidak yakin kualitas persepakbolaan Indonesia akan maju. Salah-salah malah akan bergerak mundur dan semakin tertinggal.

Dan jika ada yang mengatakan bahwa sepakbola dapat menyatukan bangsa Indonesia..?  Gombal..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s