“Asap lagi, asap lagi….”


image

Beberapa hari ini, aroma asap cukup menyengat di kawasan Gunung Tinggi Batulicin.  Bagi yang belum tahu, kawasan ini berada tidak jauh dari Kantor Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Masih belum tahu juga, silahkan tanyakan ke dukun terdekat atau kalau mau lebih praktis cari saja di Google Maps (kalau ada).

Walaupun tidak separah di Kalimantan Tengah, bencana kabut asap di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan sudah cukup membuat masyarakat resah.

Ya jelas resah, masyarakat yang terpapar kabut asap tidak dapat menikmati udara segar selama satu bulan terakhir ini. Bagi mereka yang memiliki kondisi fisik sehat mungkin tak jadi masalah, tetapi kabut asap adalah masalah besar bagi anak-anak, orang tua lanjut usia, penderita asma dan mereka yang alergi asap.

Kalimantan Tengah lebih parah lagi, saya dengar bencana kabut asap disana sudah terjadi selama dua bulan.

Berbagai upaya pemerintah daerah sudah sangat maksimal untuk memadamkan titik api. Saya lihat petugas kebakaran juga selalu siap siaga untuk melakukan pemadaman. Tetapi karena kontur tanah disini sangat mudah terbakar, upaya pemerintah juga tidak terlalu membawa perubahan.

Hari ini, Rabu (14/10/2015) kabut asap sangat tebal  menyelimuti sebagian besar wilayah Batulicin. Bahkan, bus rombongan Kejaksaan Negeri Batulicin dini hari tadi tidak bisa melintas di Jalan Manggis Batulicin karena jarak pandang tidak lebih dari satu meter.

Akhirnya rombongan terpaksa menginap di Batulicin sembari menunggu intensitas kabut asap berkurang. Beberapa teman saya juga mengatakan bahwa kabut asap dini hari tadi adalah yang terparah selama dia tinggal di Batulicin. Banyak pihak menyebut bencana kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera adalah yang terparah sejak 1997.

Beberapa kota di Kalimantan Tengah seperti di Palangkaraya, Sampit, Pangkalanbun dan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah merupakan kawasan langganan kabut asap.

Tapi anehnya, sebagian warga lainnya seakan menganggap biasa bencana kabut asap ini. Saya pernah bertemu seseorang yang menganggap bencana kabut asap adalah hal yang biasa.

Tidak aneh kalau sebagian masyarakat lainnya merasa resah dan khawatir, tetapi ada pula masyarakat yang menganggap hal ini tidak berdampak kepada kesehatan masyarakat.

Semoga pemerintah pusat bisa belajar dari bencana kabut asap tahun ini dan bisa mencegah terjadinya bencana serupa beberapa tahun mendatang. Ingat, kabut asap bukan tradisi,  dan jangan dijadikan tradisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s