Republik Asap


image

Penulis: Puja Mandela

Aksi pemerintah memenjarakan aktor individu atau perusahaan yang diduga membakar lahan dan hutan tak akan cukup mencegah berulangnya bencana kabut asap di republik ini. Upaya pemadaman dengan memanfaatkan tenaga pemadam kebakaran dan bom air melalui udara pun hanya bersifat sementara.

Memang, kita sebagai masyarakat Indonesia harus menghargai berbagai upaya yang sudah dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Tapi apakah upaya-upaya itu sudah cukup untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat?

Kalaupun pada akhirnya pemerintah pusat tak berdaya menghadapi jaringan-jaringan tertentu dibalik pembakaran hutan, setidaknya pemerintah pusat dapat menemukan solusi dan langkah nyata, bagaimana caranya menyelamatkan nasib masyarakat dari kepungan asap.

Lha terus carane piye? Yo emboh…mikiro dewe….!

Wajar masyarakat mengeluh kepada pemerintah. Kalau tidak kepada pemerintah, lalu kepada siapa lagi mereka mengeluh. Kepada Tuhan Yang Maha Esa…? Doa tanpa dibarengi dengan usaha juga percuma.

Tidak heran sebagian warga Riau sudah menyatakan ingin merdeka dari Indonesia. Pernyataan ini tak perlu disikapi secara serius. Ini adalah ungkapan rasa frustasi masyarakat dan respon betapa lambannya respon pemerintah pusat menyikapi masalah ini.

Menurut saya, bencana kabut asap ini merupakan peristiwa yang dapat menimbulkan dampak psikologis yang sangat luar biasa. Bahkan bencana ini seharusnya sudah ditetapkan sebagai bencana nasional yang memerlukan penanganan seriyyyyuuuus buuuaaaangeeeettt dari pemerintah pusat.

Kabut asap sangat berbahaya bagi anak-anak dan orang tua lanjut usia. Bahkan orang dewasa pun tidak sedikit yang terkena penyakit karena kabut asap. Sebab efek ringannya saja, penghirup kabut asap berpotensi menderita penyakit Infeksi saluran Pernafasan (Ispa). Lalu bagaimana dengan masyarakat yang menghirup kabut asap dengan volume sangat tebal seperti di Pekanbaru dan Palangkaraya? Berbulan-bulan pula…

Yang paling mengkhawatirkan, kabut asap mengandung zat radikal bebas yang cukup berbahaya bagi tubuh manusia. Jika didalam sebatang rokok mengandung 4 ribu zat berbahaya maka dalam asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan zat berbahaya yang terkandung didalamnya hampir setara dengan rokok.

Berbagai kalangan menuding pemerintah pusat lamban menanggapi masalah kabut asap yang sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Bukannya konsen dengan kabut asap, eh pemerintah pusat malah lebih tertarik dengan naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Memang keduanya adalah hal yang berbeda. Naiknya nilai tukar rupiah itu penting, tapi menyelamatkan nyawa masyarakat korban kabut asap jauh lebih penting. Jangan karena nilai tukar rupiah sudah menguat, lalu seakan-akan masyarakat di republik ini sudah aman, damai dan sejahtera. Kan ngawur…!

Kedatangan Presiden Joko Widodo ke Kalimantan Selatan juga tak berarti apa-apa. Sebagian masyarakat justru menanggapi sinis kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu. Semoga saja kedatangan presiden beserta pejabat di tingkat pusat memang berniat baik, tidak hanya sekedar jalan-jalan, nengok kabut asap.

Prihatin saja tidak cukup. Kalau perlu, pemerintah pusat harus meminta bantuan negara tetangga untuk memusnahkan kabut asap dari bumi Indonesia.

Sebenarnya bencana kabut asap ini sudah seperti tradisi tahunan di Indonesia. Saat musim kemarau tiba, bencana kabut asap datang berbarengan dengan bencana lainnya yang tak kalah meresahkan, krisis air besih.

Tradisi? Ah, lagi-lagi tradisi. Sudah terlalu banyak tradisi-tradisi di republik ini. Kabut asap ini bukan tradisi yang layak dilestarikan.

Ya beginilah republik ini, Republik Asap…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s