Aktor Intelektual


image

Penulis ; Puja Mandela

Siapa yang harus bertanggung jawab kalau seorang gadis berusia belasan yang belum memiliki status pernikahan ternyata sudah berbadan dua? Lebih mencengangkan lagi jika ternyata umur bayi dalam kandungan gadis itu sudah berusia tujuh bulan.

Saat diinterogasi, si gadis masih terlihat sangat syok. Ia belum berani mengungkapkan siapa yang berani menghamilinya.

“Wah pasti pacarnya yang melakukannya,”komentar seorang wanita dengan akun anonim.

“Mungkin teman laki-lakinya. Belum tentu pacarnya yang melakukannya”kata wanita lainnya.

Hussss…… Ngawur semua…!

Jangan asal tuduh. Mentang-mentang sekarang zamannya media sosial, jadi bisa komentar sembarangan. Nggak bisa begitu lah. Kita sebagai manusia harus berprasangka baik dengan sesama. Belum tentu, sekali lagi belum tentu pacar atau teman laki-lakinya yang melakukan perbuatan tersebut.

“Mungkin teman perempuannya”

Hussssssss………  Semakin ngawur saja….!

Saya pastikan tak ada yang pasti didunia ini, kecuali kematian, dan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Belum tentu Paijo yang dikenal memiliki banyak perusahaan di sektor perkebunan, pertambangan dan kelautan adalah orang kaya.

Bisa jadi Paijo yang disegani berbagai kalangan pengusaha cuma sebagai pemeran pengganti atau bahkan cuma pemeran figuran. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jangan-jangan Paijo cuma tokoh fiktif.

Wah…kok iso…? Yo emboh, aku juga nggak ngerti…

Raja-raja kecil di daerah belum tentu sebagai pemilik modal utama. Selalu ada dugaan, bahwa ada peran aktor intelektual yang mendorong raja-raja kecil tersebut. Ini berlaku dari tingkat desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan di republik ini.

Makanya lucu, ketika ternyata media ramai-ramai memberitakan bahwa aktor intelektual pembunuhan Salim Kancil hanya seorang kepala desa. Boleh percaya boleh juga tidak. Sebab tak ada kriteria dan syarat-syarat untuk menjadi aktor intelektual. Itulah susahnya. Tapi menurut saya kok nggak keren banget, aktor intelektual kok cuma setingkat kepala desa?

Saya setengah yakin kalau kepala desa yang dimaksud bukanlah aktor intelektual yang sesungguhnya. Menurut saya, yang namanya aktor intelektual, sampai kapanpun tidak akan menampakkan batang hidungnya ke muka publik.

Kita tak pernah bisa menemukan siapa itu aktor intelektual. Bagaimana wujudnya, apakah ia fiktif, nyata, dari alam ghaib atau dari dimensi lain. Dan bagaimana seleranya terhadap SPG rokok? Saya juga nggak tahu.

Lalu apakah kehamilan diluar gadis-gadis belia di Republik Indonesia juga karena adanya peran aktor intelektual?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s