Ketika Iwan Fals Curhat di Facebook


image

Oleh Puja Mandela

Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, kebebasan berpendapat setiap orang semakin ngawur saja. Nyaris tidak ada tokoh publik di era ini yang tidak pernah kena bully, hujatan sampai yang menjurus kepada fitnah.

Dari ulama, tokoh nasionalis, budayawan, selebritis sampai musisi juga kena imbasnya. Iwan Fals adalah salah satu musisi legendaris Indonesia yang lumayan sering kena bully di media sosial. Iwan Fals yang dikenal lantang menyuarakan kegelisahan kaum akar rumput di zaman orde baru dituding sebagian orang sudah tak seperti dulu lagi. Yang menyebut seperti itu bukan orang lain, tapi  penggemarnya sendiri.

Puncaknya saat pemilu 2014 kemarin. Meski sudah berulangkali mengungkapkan bahwa ia netral, banyak pihak yang tetap penasaran.

Saya masih ingat ketika salah satu reporter perempuan menanyakan perihal pandangan politik bang Iwan di Pemilu 2014. Maksudnya pilih Prabowo atau Jokowi. Kesimpulannya, bang Iwan tetap netral.

Rupanya ekspektasi masyarakat terhadap sosok Iwan Fals terlalu berlebihan. Ekstrim-nya, ia dianggap sebagai tokoh yang bisa membawa perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, atau setidaknya ia bisa kembali menyuarakan suara masyarakat dikalangan akar rumput.

Tapi bukankah saat ini semua orang sudah bisa menyuarakan kegelisahannya sendiri. Bukankah hampir seluruh masyarakat Indonesia saat ini punya profesi sampingan, tukang kritik. Ya khan….???

Saat ini bang Iwan masih berupaya semaksimal mungkin untuk membantu meningkatkan kehidupan masyarakat. Silahkan dipikirkan. Apalah anda yang kritik sana kritik sini sudah bermanfaat bagi orang disekitar anda?

Soal pemerintah, wajar saja ada yang mengkritik. Tapi jangan karena seorang Iwan Fals sudah tidak mengkritik pemerintah lagi lalu masyarakat dengan seenak udelnya mengkambing hitamkan beliau.

Iwan Fals sudah tak mungkin lagi memenuhi ekspektasi berlebihan dari masyarakat. Beliau lebih suka berkeliling Indonesia untuk menanam pohon. Lagipula negara ini lebih membutuhkan pohon daripada seorang kritikus. Terlalu banyak tukang kritik diluar sana.

Namun kritik dari masyarakat sama sekali tidak berpengaruh terhadap konser-konsernya.
Konser-konser bang Iwan  tak pernah sepi. Bahkan jauh berkali-kali lipat lebih padat dibandingkan musisi yang sedang hits di Indonesia sekalipun.

60 ribu penonton bagi musisi Indonesia itu jumlah yang luar biasa besar. Tapi jika ditilik dari berbagai konser yang digelar, jumlah itu kecil bagi konser Iwan Fals. Tentunya masih segar di ingatan kita bagaimana hampir 300 ribu manusia memadati konser Suara Untuk Negeri di Monas.

Saat konser inilah Iwan Fals berperan sangat besar bagi masyarakat. Bayangkan saya, berapa orang pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar arena konser dan meraup rezeki dari konser-konser bang Iwan yang selalu padat penonton itu.

Belum lagi soal lingkungan. Bang Iwan tak cuma bicara secara seremonial soal pentingnya menanam pohon. Tetapi beliau langsung melakukannya. Bahkan tak ada konser Iwan Fals tanpa penanaman pohon. Begitu yang saya tahu.

Baru-baru ini, dengan nama akun Virgiawan beliau mengunggah status di Facebook terkait dengan pertanyaan seputar pandangan politiknya dan beberapa masalah lainnya. Kebetulan saya berteman dengan beliau di Fecebook. Saya merasa harus membagikan ini agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui.

Berikut status bang Iwan yang sudah saya ubah ke bahasa yang lebih baku tanpa merubah isi dan pesan dari status tersebut. Oh iya, status lengkap beliau ini dibuat pada 2  Oktober 2015.

Cukup banyak yang bilang saya sudah tak seperti dulu lagi. Saya jadi penasaran dan pengen tahu, yang dulu itu yang seperti apa, terus yang sekarang memangnya kenapa?

Lalu ada juga yang bilang, “wah payah nih sudah ikutan politik. Walaaah, saya itu netral! Sungguh, suer.

Yang lebih menyakitkan lagi, saya dibilang penjilat. Siapa yang bilang? Gak usah lah, gak enak. Nanti malah menambah masalah baru lagi. Buseeet deeh, memangnya saya anjing, suka jilat-jilat. Anjing aja bisa menggigit kalau disakiti, apalagi saya yang bukan anjing. Guk…guk…guk….

Lalu saya dianggap menjual penderitaan rakyat. Gini lho ya, saya jelaskan.

“Dari orok ane tuh udah dikelilingin ame anak yatim, jompo dll. Emak ane demennya nolongin orang kagak mampu. Jadi ane tumbuh dilingkungan seperti itu. Begitu gede ane jadi orang yang kagak tegaan. Bawaannya mau nolongin orang melulu. Begicuuu…. Cieee….. Belagu loo….. Hehehe….

Saya juga dianggap robot bernyawa. Nah kalo ini,berhubungan dengan manajemen saya. Lha memang, saya itu robot bernyawa, tapi yang punya cinta. Ini kan sudah tahun 2015, jadi sudah diprogram supaya punya cinta. Kalau tidak, bisa berabe.

Bayangkan saja, sudah jadi robot, tak punya cinta pula. Intinya dalam kerja tim, nggak mungkin saya bisa bekerja sendiri. Saya butuh band, sound system, operator&kru, tukang karcis, tukang nonton, tukang parkir, tukang keamanan, tukang masak, tukang pijet, direktur, panitia dll.

Kalau saya mau dianggap robot bernyawa ya terserah. Pokoknya saya mau kasih tahu, tak ada itu robot-robotan, apalagi robot gedek. Hiii…. Yang ada juga robot beneran, robot yang penuh dengan cinta. Ceile.. Robotnya gusti Allah. Amiiin……  clear yaa…..

Soal mabok kopi, iya memang saya jualan kopi. Tapi gak sampai mabuk lah. Kalau mabuk gimana saya mau jualan. Alhamdulillah, begitu saya jualan kopi lumayan membantu urusan dapur. Masalahnya, dunia musik kita ini lagi kacrut. Pembajakan dimana-mana. Musisi hanya bisa hidup dari panggung ke panggung. Kalau rekaman, wuiih wadaau….. Ya itu tadi, dunia musik lagi kacrut-kacrutnya.

Dikira saya gak perlu kopi apa, bikin lagu gak ngopi sulit buat saya. Ya sudah, jualan kopi sambil nyanyi saja kalau begitu. Dan sebenarnya bukan kopi saja yang saya butuhkan, ada banyak hal yang bisa jadi penunjang supaya langsam dalam menjalani dunia menyanyi ini. Tapi untuk sementara ngopi aja dululah…

Toooop Kopiii, beli 3 gratis 1.
Bongkar kebiasaan lama yang nggak top!
Pokoknya gua bilang enak, ueenaklah yau.
Srupuuutttt……..

Hehehe…… Saya sudah dapat jatah dari jokowi, nggak benar itu. Saya memang orang desa. Saya sangat cinta desa, tapi bukan berarti duta desa. Kalaupun diberitakan di media-media seperti itu, ya salah yang memberitakannya.

Lalu bungkamlah saya dengan kebijakannya. Nggak juga tuh. Saya masih manggung. Kaset dan CD saya masih dijual untuk umum. Saya masih bebas bicara kalo ditanya. Kalau nggak ditanya masa bicara, wong gendeng namanya. Kan pelaksanaan kata-kata sata ya nyanyi.

Semoga ini bisa meluruskan yang mengkal mengkol itu. Kalau nggak bisa ya sudahlah. Namanya juga usaha. Kalau bisa alhamdulillah, kalau gak bisa ya alhamdulillah juga.

Terimakasih sudah membaca, selamat meraih kebahagiaan diantara riwehnya persoalan hidup yang serba simpang siur ini, nggak ada habis-habisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s