Review Album RAYA Iwan Fals


Raya Rambu Rabbani jumpa pers launching album Raya di Rolling Stone cafe. (Foto : KapanLagi.com)

Oleh Puja Mandela

Setelah diluncurkannya album terbaru Iwan Fals bertajuk Raya di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa 25 Juni 2013, banyak sekali teman-teman saya khususnya para penggemar Iwan Fals dan pecinta musik yang memiliki selera musik diatas rata-rata yang memuji habis album ini. Sebagian besar dari mereka menyebut inilah album yang ditunggu-tunggu. Benar-benar album yang memuaskan dan tentunya Iwan Fals buangettt.

Sambutan positif seperti ini tentunya sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat dirilisnya album 50:50 pada 2007 yang saya sendiri butuh waktu tujuh tahun untuk menyukainya. Ya, saya baru suka album itu beberapa bulan yang lalu. Kemudian tanggapan positif ini juga sangat bertolak belakang dengan album Keseimbangan (2010) yang meski memuat lagu-lagu bagus tapi gaungnya biasa saja. Menurut saya musik di album itu tidak bisa dibilang spesial, kalau tidak mau dibilang konvensional. Heuheu…

Tiga tahun setelah diluncurkannya album Keseimbangan, banyak sekali rumor diluar sana terutama di dunia maya yang mengindikasikan bahwa sang maestro akan membuat album baru lagi. Bahkan beberapa blog penggemar Iwan Fals sudah mencoba menerka-nerka terkait album baru yang pada saat itu masih menjadi misreti, eh maksud saya, menjadi misteri.

Saya pun ikut terbawa-bawa dan memikirkan bagaimana nantinya album baru tersebut. Apakah masih seperti album 50:50 dan In Collaboration With yang “nggak fales”, atau seperti “Suara Hati” yang dewasa dan bersahaja, atau malah seperti album-album Iwan Fals di era 80an yang liar, penuh dengan gugatan dan kritik sosial.

Beberapa bulan kemudian, saya mendengar kabar dari teman saya di Bandung, salah satu dari trio penjahat (Willy, Renold, Martin, red) bahwa sang legenda memang meluncurkan album baru yang katanya fresh bak SPG rokok yang baru lulus magang.

Meskipun beberapa lagu yang dimuat di album itu sudah pernah dinyanyikan saat konser di sejumlah daerah, diantaranya Negeri Kaya (Bung Karno), Sampah, Tak Kenal Maka Tak Sayang, dan Lekaslah Sembuh yang khusus dibuat untuk Donny Fattah, bassis band rock legendaris God Bless.

Singkat cerita, saya pun langsung memesan album tersebut melalui PT.Tiga Rambu dan album itu pun datang beberapa hari kemudian. Woow….. Inikah album baru itu?

Pertama melihat covernya jadi ingat waktu saya membeli “White Album” milik The Beatles seharga Rp.250 ribu di daerah Pondok Indah Jakarta Selatan. Ekslusif! Belum lagi ditambah desain cover albumnya yang benar-benar artistik. Di dalamnya juga ada beberapa foto yang disertai lirik lagu.

Oh iya, ternyata ada kemiripan antara album Raya ini dengan White Album milik The Beatles. Kemiripannya adalah keduanya sama-sama memasukkan banyak lagu di satu album sehingga mengharuskan keduanya menggunakan double disk. Kreativitas antara Iwan Fals dengan The Beatles yang sangat tinggi menjadi biang keroknya. Tetapi menurut saya inilah musik, inilah yang diperlukan para musisi untuk tetap berada ditempatnya.

Hal ini juga harus dicontoh oleh para musisi muda, dimana saat ini mereka cuma bisa merilis single. Seharusnya mereka malu, malu semalu-malunya. Dan tentu saja saya harus bilang band-band muda semacam itu menjadi sangat memalukan…. Heuheu….

Oke langsung saja daripada kepanjangan. Karena kata mbak Raisa, terlalu panjang itu nggak enak.

Album yang berisi 18 lagu itu dibuka oleh tembang berjudul “Raya”. Lagu ini sendiri dibuat khusus untuk anak ketiga Iwan Fals Raya Rambu Rabbani. Lagu Raya hanya diiringi petikan gitar khas Iwan Fals. Sedikit mirip Galang Rambu Anarki (Opini, 1982) namun dengan tempo yang lebih cepat. Di lagu ini Iwan Fals berpesan untuk Raya, Suka dan duka tergantung engkau sendiri,/waspadalah selalu dalam menjalani/ tetap gagah berdiri lewati badai sendiri. Dikutip dari Majalah Rolling Stone, “Saya menunggu membuat lagu ini 10 tahun lamanya, menunggu mendapat izinnya. Akhirnya dapat dan jadilah lagu ini.”

Menurut saya, ini lagu yang cukup sederhana dan lumayan enak ditelinga. Hanya saja tanpa kehadiran harmonika, rasanya kurang lengkap.

Beralih ke track kedua berjudul Aku Ada. Disini vokal Iwan Fals dibayang-bayangi oleh vokal mengawang dari Lea Simanjuntak yang menambah unsur psychedelic lagu ini. Meskipun katanya punya aransemen yang megah, buat saya, lagu ini kurang spesial karena terlalu panjang. Entah bagi teman-teman yang lain.

Track ketiga di album ini sudah sering saya dengar (via Mp3 bajakan). Sebelumnya lagu Negeri Kaya sangat populer di kalangan penggemar Iwan Fals karena sering dinyanyikan disaat tampil live.

Namun ada sedikit perubahan aransemen dimana pada bagian reffrain, entah dimenit keberapa, Iwan Fals menyanyi dengan iringan musik bergaya orkestra tanpa iringan drumm, dan kemudian ia teriakkan, “Hei Bung Karno aku bersimpuh di makammu/bertanya tentang Indonesia kini/Hei Bung Karno nyenyakkah tidur abadimu/ku datang mengganggu waktu istirahatmu. Benar-benar menggugah kita sebagai pendengar. Dan solo gitar di bagian tengah lagu ini benar-benar menambah mantap lagu Negeri Kaya.

Berikutnya, mungkin inilah salah satu lagu terfavorit saya sekaligus lagu terbaik di Album Raya. Aransemen dan liriknya benar-benar cocok, indah dan megah. Lagu Katanya dibuka dengan suara gitar akustik dan ketukan perkusi sederhana. Di beberapa bagian, saya merasa ada sedikit nuansa lagu Dibawah Tiang Bendera saat mendengar lagu ini.

Iwan Fals bernyanyi dengan gayanya yang magis dan penuh penghayatan kelas wahid. Di bagian akhir, vokalnya meledak hebat, khas Iwan Fals. Backing vokal Lea Simanjuntak juga sangat membantu meningkatkan kualitas lagu yang bercerita tentang mimpi-mimpi negeri yang cantik, tentang serpihan surga. Tapi nyatanya masih banyak orang yang mengeluh. Katanya zamrud khatulistiwa/nyatanya kilau airmata/katanya serpihan surga/nyatanya?

Setelah disajikan lagu yang menurut saya luar biasa, kini ada lagu Kopi Top yang pada bagian intronya hanya ada vokal berat Iwan Fals yang diiringi petikan gitar dan piano yang sedikit jazzy. Arahnya tidak bisa ditebak karena setelah itu musiknya beralih ke gaya Pop Ballad ala Iwan Fals. Tapi seketika saya sangat terkejut saat memasuki bagian berikutnya. Wah musik apa ini? Apa apaan ini? Waah…… Rock N Roll…!!! Dan seketika saya ingat lagu-lagu The Beatles. Alangkah bahagianya hidup ini…. Hahahaha……… Sayatan gitar itu persis yang dilakukan John Lennon pada lagu For You Blue (Let It Be, 1970). Entah siapa pelaku penyayat gitar itu, Toto Tewel kah atau Sonata?

Sementara suara piano Edie Daromie benar-benar bercitarasa musik blues dan rock n roll. Harmonika! walaupun sedikit tetapi sangat pas. Pertama kali dengar lagu ini, saya langsung suka. Setelah puluhan tahun saya pun harus berterimakasih kepada bang Iwan karena sudah menciptakan lagu seperti ini.

Kopi Top memang Top Markotop.

Setelah Kopi Top yang mengejutkan saya, ada lagu Sampah yang kata teman-teman saya tidak umum. Iwan Fals jarang menyanyi dengan gaya seperti itu. Saat didengarkan, ‘ah memang tidak umum tapi menurut saya justru itu yang bagus. Mungkin sedikit aneh, tapi mereka pasti tidak pernah mendengar vokal teler John Lennon di lagu Lucy in The Sky With Diamond (Sgt Pappers, 1967). Itu jauh lebih aneh bung….!

Lagu ini juga keren, ketukan drummnya benar-benar pas. Sama sekali tidak mencerminkan Iwan Fals sebagai penyanyi yang sudah berumur lebih dari setengah abad. Jika dibawakan di tengah konser, penonton pasti terpancing untuk berteriak, SAMPAH.

Tangan Kosong adalah salah satu tema langka dalam dunia musik. Lagu ini menceritakan tingkatan-tingkatan dalam beladiri karate. Disini Iwan Fals bernyanyi seperti periode album 1910 dan Mata Dewa dengan gaya rock yang meledak dan berapi-api.

Setelah membabi buta dengan musik-musik yang terbuat dari api, Cinta Itu adalah salah satu yang terbuat dari air. Santai, sejuk dan melegakan. Iwan Fals menjelaskan bahwa pengertian cinta itu sangat luas. Cinta itu mulia, cinta itu sederhana. Cinta itu bukti keberadaan manusia, alam dan Tuhan. Di lagu yang lumayan santai dan cukup serius ini, Iwan Fals masih saja menempatkan selera humornya dengan menyebut Cinta itu nggak njelimet dan nggak neko-neko. Inilah lagu cinta ala Iwan Fals.

Memasuki lagu terakhir di side A album Raya ini. Pendengar akan disuguhkan lagu yang sedikit kelam dengan iringan gitar akustik. Lagu “Adalah” diciptakan oleh Mbak Yos, istri Iwan Fals. Menurut saya lagu ini bagus dan cukup berhasil untuk mendinginkan suasana setelah beberapa lagu tadi cukup panas.


SIDE B

Setelah Side A selesai diputar, saya pun harus mengganti kaset ke Side B karena jiwa ketidaksabaran saya mengalahkan semuanya. Benar kata pepatah, orang keren memang tidak sabaran.

Side B dibuka dengan lagu sederhana berjudul Api Unggun yang hanya diiringi oleh alat musik sederhana. Lagunya sangat cocok dinyanyikan saat kita camping ke puncak gunung atau didalam hutan sembari menyalakan api unggun. Saya sendiri cukup menikmati lagu ini, apalagi suara dari alat musik yang dimainkan terdengar alami. Benar-benar seperti saat tampil live di puncak gunung sembari menikmati api unggun.

Setelah Api Unggun padam, berikutnya dilanjutkan oleh lagu yang menceritakan tentang harapan yang tinggi agar lahan-lahan pertanian kita kembali subur. Gadis Tani merupakan sebuah lagu dengan konsep akustik dengan bunyi perkusi yang menonjol.

Setelah dua lagu awal yang identik dengan nuansa alam, sampailah kita pada lagu yang khusus dipersembahkan pada sahabat Iwan Fals yakni Donny Fattah yang juga menjadi Bassis band God Bless. Lagu ini dinyanyikan dengan tiupan harmonika dan gitar akustik khas Iwan Fals di era 80an. Reffrain di bagian akhir lagu ini akan membuat siapa saja terkesima dan merinding dibuatnya.

Masih kangen gaya country Iwan Fals di era 80an? Masih rindu dengan lirik-lirik kocak sang legenda? Silahkan dengarkan lagu ini. Rekening Gendut bertutur tentang maraknya korupsi di Indonesia. Dari presiden, hakim, jaksa, polisi sampai wartawan juga kena… Wah saya juga kena dong…. Rekening Gendut kentut tak berbunyi/tapi baunya busuk sekali.

Lanjuuut lagu berikutnya……..

Ehm ehm…. Kayaknya list lagu favorit saya mesti nambah lagi nih. Sebuah lagu berjudul si Putri dan si Fulan. Lagu ini berkisah tentang dua orang demonstran yang menjalin asmara dari pojokan. Gedung DPR/MPR dan memiliki cita-cita memiliki bangsa yang hebat. Keduanya lalu pacaran dan menikah. Setelah itu punya anak, dan anaknya jadi demonstran juga. Kisah yang sangat menarik.Menurut saya, musik di lagu ini memiliki tiga paduan utama yakni Country, Ballads dan Rock N Roll. Melodinya gurih, lebih rock n roll daripada lagu Pesawat Tempur (1910). Hanya saja beberapa orang akan sulit mencerna perpindahan musik dari irama cepat yang tiba-tiba menjadi ballads, namun jika sering mendengarkan karya-karya musisi 60-70an macam Beatles atau Queen, hal tersebut bukanlah sesuatu yang asing. Cukup dua kata untuk menjelaskan lagu ini. “GUE BANGET”

Setelah terperangah dan asik bergoyang dengan Rekening Gendut dan Si Putri dan Si Fulan ada sebuah lagu berirama balada berjudul Bangsat yang menurut Iwan Fals adalah sebuah lagu untuk para koruptor yang harus dipites seperti Bangsat dalam arti sebenarnya. Majalah Rolling Stone menulis, Bangsat adalah nomor balada yang kuat dengan intro dari suara harmonika yang menyayat.

Memasuki akhir lagu kita disuguhkan oleh tiga buah lagu yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Ada nomor jenaka di lagu Dajal Net yang menceritakan perkembangan teknologi di dunia. Aransemen musiknya juga ringan, sangat cocok dengan liriknya yang lucu, khas Iwan Fals era 80an.

Salah satu lagu bagus lainnya adalah Pelaut. Meski tidak bernada riang, namun lagu ini cukup kuat dan dibawakan dengan sempurna oleh Iwan Fals. Saya suka lagu ini. Berhari berbulan dan tahun/ungkapkan hati pada samudera/amanah ini sudah suratan/tidaklah sesal jadi harapan.

Setelah lebih dari satu jam mendengarkan album ini, sampailah saya pada lagu penutup yang diberi judul Tak Kenal Maka Tak Sayang. Lagu ini pernah dinyanyikan bang Iwan dihadapan presiden SBY waktu acara apa gitu saya lupa. Hehee…. Lagu bercorak country ini sangat asik ditelinga dan mesjadi lagu yang cocok untuk menjadi lagu penutup dari 18 lagu di album Raya ini.

Wah akhirnya selesai juga…

Demikian review singkat dari saya untuk album yang sudah lama saya nantikan ini. Iwan Fals memang bukan seperti Iwan Fals yang dulu, tetapi karya luar biasa ini semakin membuatnya tak terkejar dari jangkauan musisi lain di Indonesia. Jika masih ada yang bertanya-tanya mana Iwan Fals yang dulu, maka simak baik-baik album ini.

Oh iya hampir lupa, menurut saya album ini juga melampaui beberapa album Iwan Fals di era 80-90an. Ini bukti bahwa Iwan Fals masih ada dan nggak ada matinye……! (pjm/30/7/2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s