Sedikit Tentang George Harrison


Ada air mata di pelupuk mata Ringo Starr. Beberapa kali mantan penggebuk drum The Beatles itu bahkan harus melepas kaca matanya untuk menghapus air mata itu. Dia tak kuasa menahan haru ketika harus menuturkan kembali kenangan tentang sahabatnya, George Harrison, yang wafat pada 29 November sepuluh tahun silam.

Pria bernama asli Richard Starkey itu menuturkan ketika menjenguk George yang tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Swiss lantaran menderita kanker paru, sahabatnya itu masih sempat bercanda. Saat itu, kata Ringo, ketika dia mohon pamit lantaran ingin menjenguk anaknya yang baru saja menjalani operasi otak di Los Angeles, George berkata “Apakah saya juga harus ikut menemanimu,” tutur Ringo dengan mata berkaca-kaca.

Kisah yang dituturkan Ringo itu terangkum dalam film dokumenter George Harrison: Living in The Material World yang bakal segera rilis. Film garapan sutradara terkenal Martin Scorsese ini rencananya ditayangkan stasiun televisi HBO, Oktober mendatang. Mulai pekan ini, cuplikannya sudah bisa dilihat di beberapa situs hiburan.

Selain Ringo, sahabat-sahabat George yang lain juga ikut memberi testimoni. Mereka antara lain gitaris Eric Clapton, Tom Patty, Phil Spektor, produser yang menangani album solo Harrison, pemilik studio Abbey Road, George Martin, istri almarhum John Lennon, Yoko Ono, dan tentu saja Paul McCartney, bassist The Beatles, serta janda mendiang, Olivia Harrison. Di film ini, Olivia juga bertindak sebagai produser.

Olivia mengungkapkan beberapa surat pribadi suaminya yang tak pernah dipublikasikan sebelumnya. Selain itu, dia juga mengungkapkan sisi lain pribadi suaminya yang selama ini dikenal sebagai anggota The Beatles yang paling pendiam. Dari anggota The Fab Four, sebutan lain The Beatles, George memang dijuluki “The Quiet Beatle”. George tak pandai bicara seperti halnya Lennon dan McCartney yang gemar ceplas-ceplos di hadapan wartawan. Dia cenderung tertutup, namun punya selera humor yang tinggi.

Anak seorang sopir bus di Liverpool ini merupakan anggota The Beatles yang paling muda. Dia lahir pada 25 Februari 1943. George bergabung dengan The Quarrymen, band bentukan Lennon-McCartney yang menjadi cikal-bakal The Beatles, pada 1958. Ringo baru belakangan bergabung menggantikan Pete Best seusai The Beatles kembali dari Hamburg, Jerman, pada 1962.

Seperti lagu The Long and Winding Road, perjalanan karier The Beatles tidaklah mulus. Mereka bahkan pernah dibayar hanya dengan sebotol bir ketika tampil di Jerman dan menjadi band pengiring Tony Sheridan. Ketika nama The Beatles melambung di pertengahan ’60-an, mereka pun pernah dihujat lantaran celetukan Lennon yang sesumbar mereka lebih terkenal daripada Yesus. Akibatnya, pers dan fan The Beatles pun membakar piringan hitam mereka sebagai bentuk protes. Namun, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, harus diakui The Beatles telah menjadi bagian sejarah yang mengubah kebudayaan dunia. Mereka menjadi salah satu ikon pop, bahkan hingga saat ini.

Dalam perjalanan karier The Beatles, yang lebih banyak bertindak sebagai penulis lagu adalah Lennon-McCartney, sedangkan George mengisi rhythm guitar. George hanya mencipta beberapa lagu, antara lain Something, While My Guitar Gently Weeps, serta Here Comes the Sun. Seusai The Beatles bubar pada 1970, masing-masing personelnya bersolo karier, termasuk George. Dia sempat merilis beberapa album solo, salah satunya All Things Must Pass, Living in The Material World, serta Cloud Nine.

Pascabubarnya The Beatles itu, sebetulnya banyak pihak yang ingin menyatukan mereka kembali. Namun, permusuhan antara Lennon dan McCartney yang sulit dipadamkan membuat upaya itu sia-sia. Terlebih, setelah Lennon mati ditembak penggemarnya pada Desember 1980. Mengenai kematian Lennon ini, menurut Olivia, George sangat marah.
“Lennon tak patut mati dengan cara seperti itu,” kata Olivia menirukan ucapan suaminya.

Ironisnya, beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, George dan Olivia sendiri nyaris terbunuh ketika seseorang memasuki kediaman mereka dan menyerang dengan pisau. Beruntung nyawa mereka selamat, meski leher George terluka. “Kami nyaris terbunuh di rumah sendiri,” ungkap Olivia mengenang.

Namun, pada 29 November 2001, Olivia tak kuasa menghalangi kepergian pujaan hatinya itu. George yang memang seorang perokok berat harus meregang nyawa lantaran kanker paru. Olivia beruntung karena di saat-saat terakhir suaminya itu, dia berada di sampingnya. Begitu juga dengan putra mereka, Dhany Harrison. Meski bukan cinta pertama, Olivia-lah yang menjadi pelabuhan terakhir George.

Ada kisah menarik seputar asmara gitaris The Beatles ini. Sebelum menikah dengan Olivia, George memiliki istri bernama Pattie Boyd, seorang model terkenal di Inggris di era ’60-an. Namun, pernikahan mereka kandas karena Pattie lari ke pelukan orang lain. Pria itu adalah Eric Clapton yang notabene sahabat George sendiri. Uniknya, George tak marah dan mereka tetap bersahabat hingga akhir hayatnya. Mengenai hal ini, Clapton menuturkan bahwa dia sejak lama memang tergila-gila dengan istri sahabatnya itu. Di bagian ini, Clapton pun terbata-bata ketika menuturkan kebesaran hati koleganya tersebut.

Scorsese yang berpengalaman menggarap film dokumenter (antara lain No Direction Home-nya Bob Dylan dan Shine a Light-nya Rolling Stones), sangat detail dalam menempatkan kamera. Dia begitu piawai menangkap sisi-sisi humanis dari penuturan para tokoh yang memberi testimoni di film ini. McCartney, misalnya, berkisah penuh humor tentang sikap sahabatnya itu yang sangat menghargai wanita.

Menurut Olivia, sebagai suami George kadang bisa menempatkan diri sebagai istri sehingga dapat memahami perasaannya. Itulah yang membuat perkawinan mereka langgeng hingga maut memisahkan. “Kadang sulit hidup dengan orang yang begitu mencintai Anda. Beruntung kami dapat menjalaninya bersama,” tutur Olivia.

Saat masih bersama The Beatles, George Harrison sendiri dijuluki sebagai ‘the quiet Beatle’ (si Beatle yang pendiam). Dilihat dari kemampuan bermusiknya, sebenarnya George bisa disetarakan dengan John Lennon dan Paul McCartney, bahkan melebihi mereka. Lebih dari itu, banyak yang menganggap George sebagai salah satu pemain gitar terbaik di dunia. Tapi karena George jarang menonjolkan diri seperti John dan Paul (mungkin karena ia adalah personel Beatles yang termuda), namanya tenggelam di bawah bayang-bayang John dan Paul.
Berbeda dari The Beatles yang lain, ia merupakan satu-satunya anggota grup yang di masa kecilnya tidak dilanda mimpi buruk akibat perceraian orang tuanya. George Harold Harrison lahir pada tanggal 24 Februari 1943 (sumber lain mengatakan, George lahir tanggal 24 Februari 1943 jam 23:42). Ayahnya, Harold, adalah seorang sopir bus kota dan ibunya, Louise Harrison adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil George mulai kenal musik karena keluarganya sering mendengarkan musik dari siaran radio. Selain itu, orang tuanya banyak memiliki koleksi lagu-lagu pada masa itu, misalnya Bing Crosby, Shenanaggy Da, dan sebagainya.
Liverpool Institute, satu sekolah dengan Paul, tapi satu angkatan di bawah Paul. Sekitar tahun 1956/ 1957, George terserang penyakit radang ginjal dan diopname di Alder Hey Hospital selama 6 minggu. Ketika sakit, ia sering ngidam minta gitar. Akhirnya pada awal tahun 1957, ibunya membelikannya gitar seharga 3 poundsterling Dengan gitar itu, ia ngamen dan mengumpulkan uang untuk membeli gitar baru. Namun karena jumlahnya masih kurang, ia terpaksa harus bekerja di sore hari membantu tukang jagal dan membersihkan rumah orang pada hari Sabtu..

Seperti John dan Paul, George juga menggandrungi rock and roll. George mengidolakan orang-orang seperti Elvis, Carl Perkins, Chuck Berry, Buddy Holly, Little Richard dan Lonnie Donegan. George juga menyukai musik hillbilly seperti ‘Nothin’ Shakin’ dan ‘Glad All Over’, dan lagu-lagu yang bernuansa humor seperti ‘Three Cool Cats’ dan ‘The Shiek Of Araby’. Sejak bergabung dengan The Quarrymen, George mendapat peran sebagai pemain lead guitar utama. Karena George tidak terlalu mahir berimprovisasi, ia biasanya membuat bagian solo gitar suatu lagu dengan cara mengulik lalu menghapal. Karena itu, pada masa-masa awal The Beatles, banyak lagu yang bagian solo gitarnya begitu-begitu saja setiap kali The Beatles memainkan lagu tersebut. Contohnya: ‘All My Loving’, ‘Can’t Buy Me Love’, ‘Till There Was You’, ‘Roll Over Beethoven’.

Hari Natal 1965 George melamar Pattie Boyd, seorang model berkaki indah dan bermata biru laut. Tak lama kemudian keduanya menikah tepatnya 21 Januari 1966. Kabahagiaan perkawinan mereka sedikit terganggu gara-gara belum hadirnya momongan di rumah mereka. Kepada teman-temannya, George selalu menyatakan bahwa ada yang tidak beres dalam dirinya. namun kabar burung menyebutkan, sesungguhnya Pattie lah yang mandul dan pengakuan George hanya merupakan sikap gallant agar Pattie tidak mendapat malu. Dan memang terbukti, dari perkawinannya yang kedua di kemudian hari, ia mendapat seorang putra, Dhani.
Untuk menghindari kepusingannya, Pattie mulai menjalin cinta dengan Eric Clapton, teman dekat the Beatles. Jika George marah kepada Eric, Pattie-lah yang membelanya. Cinta itu akhirnya berkembang serius. Pada 27 Maret 1979, Eric menikahi Pattie. Sementara George menjadi binal tak terkendali. Wanita mana pun yang datang kepadanya, pasti disambarnya. Namun akhirnya ia menemukan pelabuhan hatinya, Olivia Trinidad Arias, seorang wanita berdarah Meksiko yang dinikahinya tahun 1974.

Dalam dunia percintaan George lebih banyak mengalami kegagalan walaupun akhirnya berhasil, dalam artian menemukan cinta yang tidak melulu soal seks. Sedang di bidang karir, ia banyak berhasilnya dan sekali gagal. Ketika All Things Must Pass diluncurkan, salah satu lagunya, My Sweet Lord menjadi hit. Sayang lagu itu memperlihatkan kesamaan yang sulit terbantahkan dengan lagu He’s So Fine, salah satu hit dari Chiffons di awal 60-an. Pihak produser menggugat George melakukan plagiat, dan George secara demonstratif datang ke pengadilan sambil menenteng gitarnya untuk memperlihatkan kepada hakim bagaimana ia mengarang lagu itu. Namun hakim tetap memutuskan George bersalah melakukan plagiat ‘secara tidak sadar’. Bagaimanapun kejadian itu mendapat publikasi luas dari pers Inggris, sehingga secara emosional George mendapat pukulan berat.Dan pukulan ekonomis menyusul satu langkah di belakangnya, ia harus membayar denda sebesar US$ 587 ribu atau sekitar 1,25 milyar rupiah.

 

: Berbagai Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s