Rubber Soul dan Revolver


EKSPERIMENTASI dengan narkotika dan agama oriental tidak hanya mengubah musik The Beatles, namun juga personalitas keempat anggotanya, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr. Menurut Ian MacDonald, wartawan majalah musik Inggris Mojo,

pengalaman psikedelik tersebut bahkan membuat The Beatles sebagai pembuka pintu sebuah era baru.

SELAMA lima tahun paruh terakhir dekade 1960, banyak penggemar musik menganggap The Beatles sudah tidak tertandingi oleh siapa pun. Bahkan, bagi sebagian pendengar musik muda usia, keempat personel The Beatles bagaikan dewa-dewa yang tidak terjangkau tangan siapa pun.

Padahal, meskipun mengamati situasi sosial dan politik, The Beatles bukan menjadi penyebab terjadinya perubahan- perubahan sosial maupun psikologis di masa itu. Namun, mereka cerdik mengambil potongan-potongan gagasan lebih cepat dibandingkan para kompetitor mereka.

Apalagi, dengan sukses penjualan jutaan album, The Beatles sangat berhasil memukau dan menyebarkan gagasan- gagasan musikal tersebut dengan cara-cara yang intelektual. Contohnya adalah ketika The Beatles mempelajari agama oriental-yang tadinya kurang populer-yang segera menjadi obyek diskusi masyarakat Barat.

The Beatles bukanlah warga Barat yang menemukan agama oriental tersebut, yang sudah dikenal sejak abad ke-18. Namun, ketertarikan Barat dengan kultur Timur itu tidak akan pernah terjadi jikalau The Beatles tidak menggalinya.

Mereka mendalami agama Hindu-India, yang menjadi pemicu terjadinya kebangkitan spiritual di akhir dasawarsa 1960. Mereka pula yang mengenalkan musik avant-garde yang tercermin dengan sempurna melalui nomor Revolution 9 dalam album The Beatles (White Album) tahun 1967.

Musisi terkenal dari Amerika Serikat (AS), Bruce Springsteen, mengatakan bahwa Elvis Presley membebaskan tubuh manusia dan Bob Dylan membebaskan pikiran orang. Adapun The Beatles melakukan lebih dari yang dibuat oleh Presley dan Dylan hanya karena sukses komersial mereka yang mengglobal.

Dylan sebetulnya tidak tertarik dengan gagasan “masyarakat alternatif” yang diusulkan oleh gerakan kontrakultur akhir dekade 1960, sementara The Beatles menggali inspirasi- inspirasi dari gerakan ini. Ideologi “Summer Of Love” tahun 1967 memang bukan penemuan The Beatles, melainkan mereka ikut mempersiapkannya lewat album Revolver.

Lebih dari itu, The Beatles membuat kontrakultur menjadi gerakan yang lebih massal. Tidak perlu diragukan lagi, adalah The Beatles yang membantu berubahnya dunia pada tahun-tahun era psikedelik.

The Beatles mengenal ganja dari Dylan tahun 1964 di New York (AS), tetapi mereka lebih cepat memulai proses “mind expanding” dengan LSD ketika membuat album Help! tahun 1965. Setelah itu, lahirlah karya-karya “acid-influenced” seperti Day Tripper, Taxman, atau Tomorrow Never Knows.

McCartney dan Lennon gemar memperluas wawasan dengan menghadiri acara-acara kebudayaan underground di London yang subur dengan psikedelia warna-warni likuid ala Pink Floyd atau Pretty Things. Pengalaman berharga itulah yang mempengaruhi lahirnya karya-karya seperti Good Day Sunshine atau Penny Lane.

Berkat pengalaman “acid-influenced” itu pula kolaborasi Lennon dan McCartney menjadi semakin kental. “Paul menulis ’come and see the show’. Saya menambahi dengan ’I read the news today, oh boy’,” kata Lennon.

McCartney masih lebih maju dalam eksplorasi musiknya ketimbang Lennon sehingga dialah yang mampu menggagas Magical Mystery Tour dan Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Namun, Lennon tetap menjaga originalitas musik The Beatles yang klasik, seperti Strawberry Fields Forever, Lucy In The Sky With Diamonds, atau A Day In The Life.

Jika McCartney mengambil makna musikal dari kedatangannya ke acara-acara “underground”, Lennon lebih memanfaatkan peristiwa-peristiwa itu untuk mematangkan sikap politiknya yang antikemapanan. Adapun Harrison tetap berada di jalur agama Hindu yang membuat dia tertarik sejak awal tahun 1965.

Harrison juga dikenal sebagai pemakai narkotika yang sama parahnya dengan Lennon. “Narkotika membuat perasaan saya tidak berhenti enak, hal yang tak pernah saya nikmati sepanjang hidup saya. Ini juga yang membuat saya jatuh cinta bukan kepada orang atau hal yang khusus, melainkan kepada semuanya,” kata Harrison 35 tahun setelah tahun 1965.

Starr dan McCartney sempat juga mencoba-coba pengalaman menenggak LSD sekalipun mereka akhirnya tetap setia pada ganja. Akan tetapi, narkotika bukanlah menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada proses kreatif kedua personel itu sebagai musisi.

Era psikedelik The Beatles dimulai dengan nomor Tomorrow Never Knows dan diakhiri dengan Across The Universe bulan Februari 1968. Oleh sebab itulah mereka menyebut Revolver sebagai album yang menjadi tonggak penting bagi perkembangan musik The Beatles selanjutnya.

Uniknya, seperti kata Harrison, Revolver (1966) seperti “jilid kedua” dari album sebelumnya, Rubber Soul (1965). Wajar jikalau majalah Rolling Stone memilih kedua album itu ke dalam 10 besar 500 Album Terbaik Sepanjang Masa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s