Indonesia Reggae Festival, Cita-Cita Lama Para Rastafarian di Indonesia

Jakarta – Musisi legendaris Iwan Fals menjadi bintang tamu Indonesia Reggae Festival 2011 Sabtu [21/5] malam lalu di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat. Iwan Fals tampil pada sekitar pukul sebelas malam dengan berturut-turut memainkan “Negara,” “Bongkar,” “Ada Lagi yang Mati” dan lagu encore “Hio” yang berhasil membuat ribuan penonton di sana—bahkan mungkin seluruh isi semesta—tunduk padanya meski hanya besenjatakan sebuah gitar akustik dan harmonika.

“Tepat sekali ya saya main di sini. Karena banyak lagu saya yang terpengaruh dari tema-tema reggae,” kata Iwan Fals beberapa saat sebelum ia menggelontorkan semua lagu tadi, seakan menjawab pertanyaan orang-orang kenapa musisi yang lekat dengan ragam folk itu tampil di festival reggae. “Saya kagum dengan Bob Marley karena dia memperjuangkan kemerdekaan dan kemanusiaan,” sambungnya.

Selain Iwan Fals nama lain yang menjadi headliner Indonesia Reggae Festival adalah band reggae asal Amerika Serikat pemilik hit “Baby, I Love Your Way,” Big Mountain. Band yang dikomandoi vokalis Joaquin ‘Quino’ McWhinney—yang penampakannya mengingatkan pada perpaduan antara Kenny G, Serj Tankian dan Jesus—itu tampil persis sesudah legenda reggae Indonesia, Tony Q Rastafara, tuntas membawakan “Republik Sulap,” “Don’t Worry” dan “Pesta Pantai.”

Tony Q mengaku sangat bahagia dengan adanya acara ini. Hal itu sangat wajar mengingat perjalanan kariernya di musik reggae yang telah ia mulai sejak akhir ‘80an. “Cita-cita lama akhirnya bisa terlaksana,” ujar penyanyi pemilik nama asli Tony Waluyo Sukmoasih itu saat ditemui Rolling Stone di belakang panggung usai penampilannya.

Indonesia Reggae Festival berlangsung sejak siang hari. Sebanyak 50 band pengusung ragam musik reggae, rocksteady, serta ska dari berbagai daerah di Indonesia secara bergiliran tampil di dua panggung yang berdiri berdampingan.

Mereka menghibur para penonton yang tentu saja rerata tampil dengan gaya rambut dreadlocks dan pernak-pernik busana didominasi warna merah-kuning-hijau, yang lekat dengan gerakan Rastafari. Sesuai dengan slogannya “One Heart, One Love,” dua panggung itu pun masing-masing diberi nama: panggung Heart dan panggung Love.

Rata-rata band tampil membawakan dua hingga tiga lagu. Pada siang harinya, ketika band-band seperti Reggae Mampus (Lampung), Good Vibration (Flores), Jah Bless (Bandung), PMS (Palembang), Saestu (Semarang), Another Project (Cirebon), Big Culture (Bandung), Galarasta (Makassar) atau K2Reggae (Jember) tampil, penonton masih tampak sedikit malu-malu untuk berdansa dan banyak yang masih memilih duduk-duduk saja di aspal. Meski sebenarnya cuaca siang itu cukup bersahabat dengan kumpulan awan yang sukses menabiri langit.

Namun, ketika Ray D’Sky yang sore itu tampil minus pemain bass Bongky Marcell dan digantikan oleh Fanny (pemain bass Oppie Andaresta) mulai menggebrak dengan “Lovely Day,” tampak ratusan penonton yang tadi duduk-duduk mulai bangkit dan ikut berdansa bersama.

“Indonesia sekarang lagi transisi melegalkan ganja,” kata Aray, vokalis-gitaris Ray D’Sky dari atas panggung, pada salah satu jeda. “Yang mendukung silakan, yang nggak juga silakan. Yang pasti reggae nggak harus gimbal atau ngeganja. Tapi kalau yang sudah, ya nggak apa-apa juga.”

S2B (Lombok), Richard D’Gillis dan band-band selanjutnya berhasil menjaga antusiasme penonton tadi untuk terus berdansa dengan senyuman bahagia di wajah mereka masing-masing hingga hari mulai beralih gelap. Sayang, jalannya acara sempat terganggu selama beberapa waktu.

Sekitar pukul tujuh malam, ketika break Maghrib semestinya sudah selesai, promotor dan pemilik B N R Production, Boy Nurmawan naik ke atas panggung dan memberitahukan bahwa jalannya acara akan ditangguhkan selama beberapa jam. Pasalnya, Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono telah tiba di Hall D untuk memberikan pidato pada acara Dharmasanti Waisak yang diselenggarakan di sana.

“Sekarang di samping kita sudah ada Pak SBY. Bangga juga kita, ya,” ujar Boy bicara melalui mikrofon dari atas panggung. “Biar beliau mengerti komunitas reggae yang selama ini identik dengan hal-hal negatif ternyata punya etika dan bisa tertib. Saya bangga dengan komunitas reggae.”

Ucapan Boy itu ternyata berhasil mendisiplinkan penonton. Tidak ada satu pun dari ribuan penonton di depan panggung itu kemudian mengeluarkan suara-suara yang biasanya muncul dari penonton yang kecewa meski sudah jelas bahwa mereka harus menunggu acara dilanjutkan minimal selama satu jam ke depan. Dengan sabar mereka pun mengambil tempat di atas aspal untuk duduk-duduk kembali.

Boy kemudian mengumumkan dua hal penting. Pertama, Big Mountain akan tampil di Bali pada 27 Mei. Kedua, pada Desember mendatang akan diadakan lagi pesta reggae serupa di Ancol. “Saya janji akan ada tiga band reggae internasional yang tampil,” imbuh eksekutif produser band Boys N Roots itu yang langsung disambut tepuk tangan dan sorak sorai meriah penonton.

Tidak sia-sia jika acara yang berlangsung tertib itu kemudian dianugerahi penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) pada pukul sebelas malamnya. Jaya Suprana, pendiri MURI, memberikan penghargaan kepada Indonesia Reggae Festival sebagai festival dengan band peserta terbanyak dalam sejarah Indonesia.

Selain itu Jaya Suprana juga menobatkan kota Jakarta sebagai ibukota reggae Asia Tenggara dan memberi julukan bagi mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, yang pada kesempatan itu juga muncul di atas panggung sebagai Bapak Reggae Indonesia.

Steven Nugraha Kaligis yang biasa dipanggil Tepeng, vokalis Steven Jam yang juga turut andil dalam terlaksananya festival ini, mengungkapkan bahwa awalnya acara ini diadakan hanya sebagai ajang silaturahmi saja tanpa pengharapan yang terlalu tinggi. Karena ia tahu bahwa penikmat musik reggae di Indonesia tergolong minor, meski pada saat yang sama menyadari musik ini mempunyai komunitas yang besar dan kuat di taraf bawah tanah.

“Tahun 2006 pernah ingin mengadakan Bali Fest, kalau tidak salah. Tapi gagal karena masalah perijinan, modal dan segala macam. Alhamdulillah sekarang kesampaian karena ada orang yang mau memberikan dananya,” kisah Tepeng. Boy Nurmawan adalah donatur yang ia maksud.

Gitaris Steven Jam yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana acara, Teguh Wicaksono, berharap Indonesia Reggae Festival akan menjadi acara tahunan. Karena, menurutnya, selain sebagai ajang silaturahmi sesama musisi reggae dari seluruh Indonesia acara ini juga membawa sebuah misi besar.

“Kita membawa isu internasional juga, biar musik reggae di Indonesia bisa terdengar sampai ke luar, dan bahwa musik reggae di Indonesia komunitasnya cukup besar. Mudah-mudahan acara ini annual, bisa diadakan setahun sekali siapa pun pelakunya,” tandas Teguh.

Indonesia Reggae Festival berlangsung hingga Minggu dini hari sekitar pukul tiga. Band-band seperti Boys N Roots, Steven Jam, Ras Muhammad, Cozy Republic dan Shaggydog tampil di atas pukul dua belas malam di mana Rolling Stone menyaksikan sudah cukup banyak penonton yang mulai mengundurkan diri bahkan ketika Big Mountain tampil. Beberapa orang meyakini, jika saja Presiden SBY tidak menghentikan jalannya acara selama beberapa jam, rundown tidak akan molor hingga sejauh itu.
RollingStone.co.id

Satu Balasan ke Indonesia Reggae Festival, Cita-Cita Lama Para Rastafarian di Indonesia

  1. denger musik mengatakan:

    memang sudah seharusnya ada festifas untuk seluruh jenis musik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: